Maknai Harkitnas Dengan Kerja Nyata
![]() |
| Upacara Harkitnas di lingkungan BPN RI. |
Jakarta, Laras Post Online – Makna nasionalisme kekinian bukan lagi kamuflase kerinduan romantisme perjuangan masa lalu. Namun harus diimplementasikan kedalam pola pikir, pola sikap dan perilaku kebangsaan selaras dengan tuntutan zaman.
Hal itu dikatakan Menteri Komunikasi dan Informatika dalam sambutan tertulis yang dibacakan oleh Deputi Bidang Survey Pengukuran dan Pemetaan BPN RI, Irawan Sumarto, selaku pembina upacara peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke 106 di lingkungan Kantor Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia (BPN RI).
Upacara peringatan Harkitnas ke 106 yang digelar oleh jajaran BPN RI itu, dilaksanakan, pada Selasa (20/5/2014) di Lapangan Upacara, Jalan Sisingamangaraja Nomor 2, Jakarta Selatan. Dengan mengangkat tema, Maknai Kebangkitan Nasional Melalui Kerja Nyata Dalam Suasana Keharmonisan dan Kemajemukan Bangsa.
Menteri Komunikasi dan Informatika dalam sambutan tertulisnya menejalaskan, tema tersebut mengandung tiga makna yang sekaligus menjadi instrumen ukuran sejauh mana nilai-nilai nasionalisme terimplementasikan dalam karsa, cipta dan karya kekinian kita secara nyata.
Artinya, lanjut Irawan yang membacakan sambutan Menteri Komunikasi dan Informatika, nasionalisme bukan sekedar diskursus dan wacana yang sorak sorai. Makna nasionalisme kekinian bukan lagi kamuflase kerinduan romantisme perjuangan masa lalu. “Tetapi bagaimana kita mengimplementasikan romantisme perjuangan tersebut kedalam pola pikir, pola sikap dan perilaku kebangsaan selaras dengan tuntutan zaman,” ujarnya.
Lebih lanjut ia menyatakan, makna kedua, bahwa pada dasarnya menginginkan sebuah keharmonisan dalam perilaku kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Nasionlaisme terbangun bukan dari perilaku saling menuding, bukan saling menyalahkan dan bahkan bukan untuk saling menyingkirkan. “Kekuatan kebangsaan tersemai dalam kohesivitas yang harmonis dari kekuatan dan energi potensi yang telah kita miliki,” tegasnya.
Makna Ketiga, adalah memberi rujukan bahwa kekuatan sebuah bangsa tercirikan dari bagaimana perbedaan dan kemajemukan dapat terkelola menjadi kekuatan. Itulah niat mulia untuk menyatukan perbedaan-perbedaan yang dimiliki bangsa ini melalui Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928.
Pada bagian lain sambutannya, Menteri Komunikasi dan Informatika Republik menyatakan, fenomena kemajemukan yang bergulir akhir-akhir ini tampaknya sedikit mengalami penggerusan dari hakekat nasionalisme itu sendiri. “Semangat persatuan demi menjunjung tinggi sikap nasionalisme yang dulu didambakan dan dibanggakan kini menjadi kekhawatiran kita bersama. Konflik antar etnis, antar kepentingan, konflik horizontal dan gangguan keamanan yang masih sering terjadi adalah fenomena kebangsaan yang perlu kita sikapi secara hati-hati,” ujarnya.
Demikian pula sikap dan perilaku yang mengutamakan kepentingan perorangan dan golongan, superioritas kelompok tertentu yang merasa lebih unggul dari kelompok lain dan bentuk-bentuk sekat pemisahan antara We and Them adalah pola pikir, pola sikap dan perilaku yang harus dihilangkan.
“Oleh karena itu, semangat dan makna peringatan Hari Kebangkitan Nasional Tahun 2014 ini, adalah semangat untuk berani melakukan evaluasi diri, semangat bagi penguatan komitmen seluruh komponen dan potensi bangsa dalam membangun Indonesia kedepan yang lebih baik,” pungkasnya. (her)




Post a Comment