Header Ads


Pemerintah Gagal Lindungi Anaki

Ilustrasi
Bandung, Laras Post  - Terbongkarnya bisnis video porno online yang melibatkan anak belasan tahun, membuat geram sejumlah orangtua di Kota Bandung. Mereka menilai kasus ini membuktikan pemerintah mulai dari pusat hingga daerah gagal melindungi warganya, khususnya kalangan anak-anak.
Psikolog dari Universitas Islam Bandung, Dr. Endang Pudjiastuti menegaskan, keprihatinan dan kemarahan sejumlah warga dirasa sangat wajar. Ia pun menilai pemilik website sangat tidak bermoral.
“Saya curiga apakah mereka itu agen yang bertugas untuk merusak bangsa kita, terutama generasi penerus. Sebab mereka sepertinya sudah tidak memikirkan keturunannya. Mungkin mereka sudah dicuci otak sehingga tega melakukan perbuatan yang sangat keji ini,” ungkap Endang.
Oleh sebab itu, ia menyarankan agar pihak yang berwenang menghukum pelaku seberat-beratnya. Sebab masalah ini menyangkut masa depan generasi penerus bangsa. Bagi orangtua, ia juga mengimbau agar mereka memahami kondisi saat ini dengan memperluas wawasan sehingga.
“Didiklah anak dengan penuh kasih sayang karena anak amanah dari Allah yang harus diselamatkan dunia dan akhirat. Jangan terlalu percaya dengan iming-iming materi. Landasi mereka dengan agama dan budi pekerti,” tegasnya.
Menurutnya, para orangtua harus menyadari bahwa mendidik anak di jalan yang benar sudah menjadi tugas. Sehingga dengan kekuatan pribadinya mereka tidak akan mudah dirusak oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Di samping itu, ia juga menya­rankan agar para pakar dari berbagai disiplin ilmu berembuk untuk mencari solusi. Tidak sebatas di permukaan atau dari fenomena yang terlihat. Tetapi pahami akar permasalahannya.
Disinggung soal apa yang harus dilakukan saat ini, Endang menjelasakan, petugas berwenang diharapkan bisa menangkap pelaku dan memberikan sanksi seberat-beratnya. “Selanjutnya semua tokoh, akademisi, dan praktisi harus terlibat menyelesaikan masalah ini,” jelasnya.
Seorang warga Jln. Setiabudhi Bandung, Hunter Seecernator (33), mengaku miris dengan perbuatan DM. Pengelola website porno bocah ini dinilai tidak manusiawi dan merusak generasi bangsa.
“Harapan saya sebagai warga, polisi semakin maju dan juara. Apa jadinya kalau generasi muda kita hancur gara-gara hal seperti yang dilakukan penjual atau pembuat video porno ini,” ungkap Hunter.
Warga lainnya, Lenny Anggraeni memuji langkah Mabes Polri yang berhasil membongkar praktik penjualan video porno di Kota Bandung. Ia berharap pelaku dihukum sesuai dengan hukum yang berlaku. Lenny menyebut aksi DM sebagai tindakan yang sangat merugikan.
Namun demikian, khusus untuk anak-anak yang diduga menjadi pemeran dalam video porno yang dijual pelaku, Lenny menganggap mereka sebagai korban. Ia berharap polisi tidak menempatkan anak-anak itu sebagai pelaku. “Tapi sebagai korban. Mereka harus dikembalikan pada orangtuanya. Anak-anak seharusnya dibina, biar orangtua memperlihatkan perannya,” tutur praktisi hukum itu.
Pandangan serupa juga disam­paikan warga lainnya, Daniswaya. Disebutnya, terungkapnya kasus penjualan video porno yang peme­rannya anak-anak harus menjadi pelajaran bagi orangtua.
“Kasus ini harus jadi pelajaran bagi kita para orangtua. Jangan sampai anak-anak kita terjerumus dalam dunia hitam,” ujarnya.
Karena itu, ia menilai peran keluarga begitu berarti. Anak-anak harus dibekali pendidikan akhlak yang baik. Anak-anak juga harus terus dididik keimanannya sehingga tidak melenceng.
Wakil Wali Kota Bandung, Oded M. Danial mengaku prihatin dan menyayangkan kasus video porno dengan melibatkan anak-anak di bawah umur. Dengan kejadian ini, diharapkan para orangtua melakukan pengawasan dan menjaga anak-anaknya agar tidak terjerumus dalam kegiatan negatif.
“Saya sangat prihatin dan menyayangkan hal itu. Kalau mau buat film, tujuannya harus menjadi fragmen yang mampu menghadirkan edukasi, mengedukasikan hal positif, bukan yang negatif,” ungkap Oded di Balai Kota, Jln. Wastukancana, kemarin.
Anak-anak di bawah umur ini, menurut Oded, masih menjadi tanggung jawab orangtua. Adanya anak-anak dalam video ini menunjukkan kurangnya pengawasan dari orangtua. Namun diakuinya semua pihak harus bertanggung jawab, baik orangtua, pendidik maupun lingkungan sekitar.
“Termasuk saya sebagai pimpinan, makanya saya imbau agar orangtua hati-hati dan menjaga anak-anaknya dari hal-hal negatif,” ungkap Oded.
“Saya ingin imbau semua warga Kota Bandung, khususnya orangtua, jagalah putra putrinya dan bina mereka, jangan sampai terkontaminasi pihak-pihak luar atau penyakit masyarakat,” tuturnya.
Sementara Ketua Komisi D DPRD Kota Bandung, Achmad Nugraha menilai, terlibatnya anak-anak dalam video porno ini karena pemerintah tidak serius dan tidak fokus melihat gejolak sosial di masyarakat. “Saat ini pengkikisan nilai-nilai budaya Indonesia sudah sangat dahsyat dan pembiarannya pun sangat jelas. Pemerintah lebih sibuk dengan persoalan pencitraan kepemimpinan,” ungkap Achmad, kemarin.
Padahal, kata Ahmad, kemajuan teknologi tidak mungkin berhenti seiring dengan perkembangan zaman. Budaya luar melalui televisi dan video-video bebas didapat dan tayang di mana-mana. Hal ini menunjukkan kurang mampunya dan lemahnya pengawasan pemerintah.
“Kasus video porno anak membuktinya bahwa tingkat frustrasi masyarakat kita sudah cukup tinggi. Dan sepertinya terjadi pembiaran perlindungan terhadap anak-amak. Sekolah-sekolah jarang memberikan pembinaan terhadap anak didiknya dengan menyosialisasikan sebuah nilai akan keragaman yang kaya di republik ini. Padahal sosialisasi ini penting untuk ditanamkan pada jiwa para peserta didik,” terangnya.
Menurut Achmad, pendidik tidak menyampaikan pesan moral yang penting bagi perkembangan jiwa anak, karena memang pemerintah tidak spesifik dalam memberikan arti pendidikan yang seutuhnya. Hedonisme saat ini sudah merambah ke pelosok dan para orangua lebih memperhatikan mata pencaharian semata daripada berdekatan dengan anak-anaknya.
Hal serupa diungkapkan Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Bandung, Tedy Rusmawan yang juga mengaku prihatin. “Orangtua semestinya bertanggung jawab, memberikan arahan agama maupun keteladanan perilaku. Saat ini perhatian terhadap agama di kalangan ABG cenderung lemah,” terangnya.
Pascakasus ini, yang paling utama adalah kepedulian orangtua terhadap aspek agama bagi anak-anaknya. Caranya bisa dengan membiasakan mengajak mereka lebih sering lagi ke tempat ibadah dibanding ke mal.
Pimpinan Pondok Pesantren Safari Jabar Kota Bandung, Drs. K.H. Suherman Ediansyah mengatakan, kasus video porno harus membuat semua pihak berinstropeksi.
“Ini jelas tamparan bagi dunia pendidikan dan pendidikan agama di tengah masyarakat. Pandangan Islam jelas, apa pun bisnis yang dilakukan jika ada indikasi maksiatnya atau garar (penipuan, red) maka sangat dilarang,” kata Suherman.
Di sisi lain, moralitas seseorang di dunia cyber bisa sangat melenceng sekaligus lebih vokal dibandingkan dengan di dunia nyata.
Suherman meminta para orangtua untuk memonitor anak-anak dalam kesehariannya, termasuk saat beraktivitas, jangan sampai kecolongan. Mengignat bila sudah menjadi korban tentu yang harus dipikirkan adalah perkembangan mental selanjutnya.
Suherman juga mengharapkan, dunia pendidikan khususnya perguruan tinggi umum menambah mata kuliah agama sebagai upaya membentengi mahasiswa atau lulusannya agar tidak salah kaprah.
Salah seorang pengurus MUI Kota Bandung, Drs. H. Budi Saefudin, M.Ag. mengatakan, kasus video porno menjadi tanggung jawab orangtua, pemerintah, para tokoh agama, dan tokoh masyarakat.  “Ini jelas sangat memalukan dunia pendidikan,” ujarnya.
Budi menambahkan, dunia komunikasi baik TV maupun internet saat ini dengan bebas bisa diakses anak-anak. (Eddys/Audy)

No comments

Terimakasih, apapun komentar anda sangat kami hargai

Powered by Blogger.