Header Ads


Selikuran Lima Gunung Pun Tebarkan Sosialisasi Pemilu

Sejumlah warga menyaksikan pementasan durasi padat wayang golek dengan
lakon carangan “Tahun Politik” dimainkan dalang muda, Sih Agung Prasetyo,
di Sanggar Wonoseni Dusun Wonolelo, Desa Bandongan, Kabupaten Magelang,
Jumat (21/2) malam.
Magelang, Laras Post Online  - Hingga beberapa waktu menjelang Pemilu Legislatif, 9 April 2014, secara paguyuban, Komunitas Lima Gunung belum tersentuh sosialisasi tentang pesta demokrasi yang secara resmi diprogramkan pihak penyelenggara pemilihan di daerah setempat, di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Komunitas yang terdiri atas kalangan seniman petani di berbagai dusun di kawasan Gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh pun, boleh dikata tak berharap banyak terhadap Komisi Pemilihan Umum setempat untuk melakukan sosialisasi pemilu kepada mereka.
Namun demikian, kabar tentang Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden, serta ingar bingar informasi menyangkut “Tahun Politik” juga berseliweran, menyentuh mereka yang tinggal di berbagai dusun setempat.
Maka, ketika mereka menggelar pertemuan informal rutin setiap bulan, dalam tajuk “Selikuran Lima Gunung”, Jumat (21/2) malam, tersisip kuat tebaran pesan pentingnya kesadaran anggota komunitas itu, untuk memberikan suaranya pada hari pemilihan mendatang di dusun masing-masing.
“Kami memaklumi saja, kalau KPU tidak mengagendakan sosialisasi pemilu secara khusus kepada komunitas kami, karena memang anggota kami tersebar di berbagai dusun yang saling berjauhan, antargunung,” kata Ketua Komunitas Lima Gunung Kabupaten Magelang Supardi Haryanto.
Putaran “Selikuran Lima Gunung” malam itu, jatuh di Sanggar Wonoseni, Dusun Wonolelo, Desa Bandongan, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang, pimpinan kepala dusun setempat, Pangadi.
Selain membicarakan berbagai agenda kebudayaan, baik di Magelang maupun di beberapa kota lain yang dijalani selama beberapa bulan ke depan, malam itu juga disuguhkan pementasan dengan durasi padat, wayang golek kontemporer berjudul “Tahun Politik”. Lakon carangan itu dimainkan oleh dalang muda, pegiat komunitas itu yang tinggal di Desa Sudimoro, Kecamatan Grabag, Sih Agung Prasetyo.
Dalam pementasan selama sekitar satu jam itu, Dalang Sih Agung yang setiap hari juga guru di salah satu sekolah swasta di Kota Magelang tersebut, memainkan wayang golek khusus para tokoh punakawan, yakni Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong.
Wayang golek punawakan itu karya ukir pertama seorang anggota Sanggar Wonoseni, Khoirul Mutaqin. Hari-hari biasa selama ini, Irul yang panggilan harian Khoirul, adalah pembuat topeng dari bahan kayu.
Belasan warga dusun setempat, khususnya para pemuda dan anak-anak, berangsek memasuki rumah sanggar seni tersebut. Wayang golek “Tahun Politik” dengan gaya pementasan lepas dari pakem pewayangan dimainkan Sang Dalang yang tak mengenakan pakaian Jawa dan hanya memakai iket di kepalanya.
Dialog yang kental dengan sendau gurau dan saling sindir bernuansa hangat, baik antara dalang dan penonton, maupun antarpenonton sendiri, mewarnai pementasan itu.
Namun, melalui ucapan Sang Dalang itu, disampaikan harapan bahwa pemilu mendatang bisa melahirkan para elit politik yang tak mengutamakan kepentingan pribadi dan golongannya, serta tidak korupsi. 
“’Wis ayo, saiki awake dhewe podho mangkat nyoblos’ (Ayo kita semua sekarang memberikan suara),” demikian Sang Dalang menceritakan ajakan Semar kepada anak-anaknya untuk ikut dalam pemilu. (Ferry)

No comments

Terimakasih, apapun komentar anda sangat kami hargai

Powered by Blogger.