Menghitung Peluang Koalisi Parpol
![]() |
| Pengamat politik, Eep Saepulloh Fatah |
Jakarta, Laras Post Online - Berdasarkan hasil hitung cepat yang dilakukan berbagai lembaga, perolehan suara partai politik (Parpol) pada Pemilu 2014, menunjukkan kekuatan tak bertumpu pada satu Parpol, melainkan menyebar. Kondisi ini memaksa Parpol harus melakukan koalisi untuk mengusung calon presiden pada pemilihan presiden nanti.
Pengamat politik, Eep Saepulloh Fatah menyebutkan, berbasis penyebaran suara partai yang sudah terpeta, maka Parpol mau tidak mau harus melakukan koalisi untuk mengusung calon presiden.. Sejauh ini tersedia tiga potensi poros pengusungan kandidat Pilpres 2014, Jokowi, Prabowo dan Aburizal Bakrie. Dua poros pertama tampaknya sudah mulai membangun soliditasnya. Poros ketiga, Poros Aburizal, ada dalam posisi yang harus sangat siaga. Mengapa?
Sebab, jika mereka terlalu percaya diri dan bekerja kurang sigap, serta jika ada pemain lain dengan penguasaan political marketing yang layak, bukan tak mungkin mencuat poros keempat.
Pengamat politik asal Cibarusah Bekasi ini menyatakan, poros keempat bisa terbangun dari kumpulan partai politik yang tak terakomodasi dalam Poros Jokowi ataupun Poros Prabowo, dan tak diajak serta oleh Poros Aburizal yang terlalu percaya diri. Poros keempat ini bisa memberi efek kejut pada calon pemilih jika berhasil memilih kandidat yang memiliki posisi dan diferensiasi yang unik dan segar.
Eep juga mengatakan, kekuatan partai politik yang menyebar dan tidak mengumpul pada satu atau dua Parpol, menyebabkan postur Parpol hanya tersisa ke dalam dua kategori, partai sedang dan partai kecil.
Ia menyebutkan, Parpol sedang adalah partai yang mendulang 10-20 persen pemilih, sementara partai kecil adalah yang menggaet suara di bawah itu. “Dengan menimbang ambang batas kekeliruan hitung cepat (sekitar plus minus 1 persen), ada tiga partai yang terkategorikan partai sedang, yaitu PDI-P, Partai Golkar, dan Partai Gerindra. Adapun Partai Demokrat dan PKB berada di garis perbatasan. Selebihnya adalah partai kecil, yakni PAN, PKS, PPP, Partai Nasdem, dan Partai Hanura,” jelasnya.
Namun Ketua DPW National Corruption Watch (NCW) C Herry SL mengatakan, selama ini Parpol terbagi kedalam dua kelompok, pertama ruling party (partai pengusa) dengan pendukung koalisinya dan partai oposisi.
“Parpol kelompok pertama ruling party yakni Demokrat, Golkar, PKS, PPP, PKB dan PAN, kelompok kedua partai oposisi, yakni PDI-Perjuangan, Gerindra, Hanura dan didukung Parpol baru Nasdem,” jelasnya.
C Herry SL melanjutkan, akan menjadi sangat menarik, jika Parpol kelompok pertama sebagai ruling party melanjutkan koalisi hingga Pilpres 2014 nanti. Demikian juga Parpol kelompok kedua sebagai oposisi tetap berkoalisi. Dengan demikian hanya akan ada 2 pasang calon presiden. “Rakyat cenderung lebih menginginkan hal itu terjadi. Sebab, perolehan suara Parpol oposisi yang meningkat pada Pemilu 2014, menujukan harapan rakyat bahwa Parpol oposisi kedepan dapat berkuasa,” jelasnya.
Ia melanjutkan, melihat perkembangan yang terjadi, pasca Pemilu 2014, pengelompokan ruling party dan partai oposisi menjadi bias karena terjadi perpecahan diantara kelompok. “Jelas ini merugikan kelompok oposisi karena kekuatannya menjadi terpecah sehingga membuka peluang bagi Parpol yang masuk kelompok ruling party untuk kembali berkuasa,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur The Sun Institute, Andrianto, menilai peta koalisi Parpol akan berbentuk segitiga. Peta koalisinya akan berwujud segitiga, yang pertama koalisi hebat yakni PDI Perjuangan, PAN, PKB, dan Nasdem dengan jagoanya Jokowi dan Hatta Rajasa.
Kedua, koalisi garuda yaitu Gerindra, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), PPP, dan PBB dengan jagoanya Prabowo dan Aher.
Ketiga, koalisi beringin Golkar, Demokrat, Hanura, PKPI, dengan jagoanya Ical dan Dahlan Iskan.
Perkiraan koalisi agak berbeda disampaikan, Board Advisor CSIS Jeffrie Geovanie menyatakan, kemungkinan, akan ada tiga poros koalisi, yakni PDIP, PKB, dan Nasdem mengusung Jokowi-Surya Paloh, atau Jokowi-Muhaimin Iskandar.
Koalisi kedua, Golkar dengan Hanura yang mengusung Aburizal Bakrie berpasangan dengan Wiranto, atau Aburizal Bakrie dengan Hary Tanoesoedibjo.
Ketiga, adalah Gerindra dengan PPP, PAN dan Demokrat. Komposisinya, bisa Prabowo Subianto dengan Dahlan Iskan, atau Prabowo dengan Suryadharma Ali. Opsi lainnya adalah Prabowo bersama Hatta Rajasa. “Hampir seperti itulah kira-kira kemungkinan koalisinya,” ungkap Jeffrie, Minggu, (13/4/2014) di Jakarta.
Sementara itu, Pengamat politik Islam dari Universitas Indonesia, Dr Yon Machmudi menyatakan, akan terbangun 3 poros Parpol, poros pertama PDIP, NasDem, PKB dan Hanura. Poros kedua, Gerindra, PPP, PKS, PAN dan PD, poros ketiga, poros Golkar partner koalisi Golkar bisa dari partai manapun karena baik Golkar maupun ARB tidak punya konflik berarti dengan partai-partai lain.
Hingga saat ini sejumlah petinggi Parpol masih terlibat penjajagan dengan petinggi Parpol lainnya, kesepakatan koalisi belum tercapai dan segala kemungkinan masih bisa terjadi. (tim)




Post a Comment