Sektor Pertanian Berkontribusi Besar Terhadap Perekonomian Di Pedesaan
Karawang, Laras Post Online - Sektor pertanian termasuk di dalamnya perikanan dan kehutanan memiliki peranan yang sangat penting dan strategis dalam pembangunan daerah dan nasional. Peranan sektor pertanian bukan saja memberikan andil terhadap ketahanan pangan, tetapi juga memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap perkembangan perekonomian secara menyeluruh, baik menyangkut pendapatan petani itu sendiri, pendapatan daerah, kesempatan kerja, serta penyediaan bahan baku industri.
Bupati Karawang H. Ade Swara tampak serius menghadiri kegiatan Temu Penyuluh Pertanian, Perikanan dan Kehutanan yang diselenggarakan oleh Badan Koordinasi Penyuluh Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Propinsi Jawa Barat di sebuah Rumah Makan, di bilangan Karawang Barat, Rabu (19/2). Tampak pula dalam acara tersebut Gubernur jawa Barat Ahmad Heryawan serta diikuti oleh Penyuluh dari Kabupaten Karawang, Purwakarta, Subang, Bandung Barat, Bekasi, Indramayu, Kota Bandung, Kota Cimahi serta Kota Bekasi.
Dalam sambutannya, Bupati menyampaikan bahwa pembangunan bidang pertanian merupakan salah satu prioritas utama yang dilaksanakan di Kabupaten Karawang. Hal ini telah dilakukan melalui beberapa program, baik bersifat lokal Kabupaten, maupun melalui program-program yang berasal dari Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Pusat. “Berdasarkan potensi yang ada maka pembangunan pertanian di Kabupaten Karawang dititik-beratkan pada sub sektor tanaman pangan (padi dan palawija), hortikultura, perikanan serta peternakan,” tuturnya.
Sedangkan penitikberatan pembangunan pertanian tidak terlepas dari potensi lahan pertanian dimiliki, yakni luas baku lahan sawah mencapai 97.529 hektar yang terdiri dari lahan pengairan teknis 85.513 hektar, pengairan setengah teknis 4.009 hektar, pengairan sederhana 3.620 hektar dan tadah hujan mencapai 3.952 hektare. “Semua merupakan penunjang Kabupaten Karawang sebagai lumbung padi Jawa Barat dan nasional,” ujarnya.
Bupati menyampaikan, bencana alam banjir, kekeringan, serangan hama penyakit tanaman dan alih fungsi lahan di Kabupaten Karawang setiap tahunnya menjadi kekhawatiran yang dapat mengancam program peningkatan ketahanan pangan, khususnya program peningkatan beras nasional (P2BN).
“Oleh karena itu, pembangunan pertanian yang berkelanjutan merupakan suatu keharusan dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan dan memperluas lapangan kerja khususnya di pedesaan. Dalam hal ini peran sektor pertanian harus ditingkatkan melalui peningkatan sdm yang berkualitas agar mampu membangun usaha dari hulu sampai hilir dan berdaya saing tinggi,” paparnya.
Namun, bupati menyampaikan bahwa dari musim tanam/MT Rendeng 2013/2014 seluas 67.154 hektare, dan jumlah areal sawah akibat bencana banjir seluas 30.756 hektare. Ada pun yang gagal panen dan gagal tanam akibat bencana tersebut seluas 21.277 hektare, terdiri dari gagal tanam seluas 14.598 hektare serta gagal panen seluas 6.679 hektare.
Terkait dengan permasalahan banjir tersebut, Pemerintah Kabupaten Karawang berupaya mengoptimalkan peran penyuluh pertanian antara lain dengan mendata luas tanaman padi yang gagal tanam/gagal panen akibat banjir, koordinasi dengan aparat terkait untuk melaksanakan sosialisasi pemeliharaan tanaman yang selamat (tidak mati) akibat banjir.
Karena itu, dianjurkan agar kelompok tani melakukan penyemprotan tanaman dengan air yang dicampur dengan pestisida/pupuk pelengkap cair, gerakan semai ulang dan tanam ulang dengan umur bibit muda ( + 10 hari setelah sebar) serta gerakan perbaikan saluran air (tersier, quarter).
Pengalaman menunjukkan bahwa penyuluhan pertanian sebagai bagian dari sistem pembangunan pertanian di Indonesia, khususnya di Kabupaten Karawang mempunyai kedudukan yang sangat strategis dan memberikan kontribusi yang sangat signifikan pada pencapaian berbagai program pembangunan pertanian.
“Melalui kegiatan penyuluhan pertanian, para petani dan keluarganya dikembangkan kemampuan dan kemandiriannya, agar mereka mampu mengelola usaha taninya secara produktif, efektif dan efisien usaha. Oleh karena itu, peningkatan kemampuan penyuluh pertanian dalam mengidentifikasi kebutuhan dan potensi petani dan pelaku agribisnis lainnya menjadi penting,” tegasnya. (Agus Safutra)




Post a Comment