Header Ads


Panduan Gizi Seimbang Perlu Disesuaikan Kondisi Daerah

Ilustrasi
Jakarta, Laras Post Online- Permasalahan gizi di Indonesia tak hanya terkait gizi kurang saja, namun permasalahan gizi lebih pun menjadi persoalan yang harus dihadapi. Menyikapi hal ini, Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi minta para ahli gizi membuat panduan gizi sehat dan seimbang dalam bentuk yang mudah dipahami semua lapisan masyarakat, utamanya yang berada di perdesaan.
“Untuk di daerah pedoman gizi seimbang harus diterjemahkan kedalam bentuk lokal yang user friendly sehingga bisa dilaksanakan secara konkret,” kata Menkes usai membuka Puncak peringatan Hari Gizi Nasional ke-54 dan peluncuran Buku Pedoman Gizi Sehat dan Seimbang, Selasa pekan lalu.
Lebih lanjut disampaikan, di Indonesia Timur misalnya untuk pemenuhan gizi sarapan jika pedoman yang dibuat berupa nuget atau sereal tentu orang akan bingung, dimana harus memperoleh bahan makanan seperti itu. “Jangan membuat panduan yang sulit untuk diterapkan,” ujarnya.
Menkes juga menginstruksikan para ahli gizi jangan hanya memakai uji laboratorium sebagai tolak ukur untuk membuat panduan gizi sehat dan seimbang. Ahli gizi harus melihat kondisi di lapangan, disesuaikan dengan daerahnya sehingga pedoman tersebut bisa dilaksanakan berkesinambungan.
Masyarakat lanjutnya, juga harus diajarkan bagaimana cara menanam sayuran dan buah di pekarangan rumah, beternak ikan atau ayam agar bisa dimanfaatkan, sehingga tidak selalu harus membeli apalagi yang impor. “Mesti dicari cara menyampaikan pesan gizi sehat dan seimbang menjadi menarik, dan meyakinkan masyarakat sehingga setiap keluarga melaksanakannya, dengan menggunakan bahan makanan yang mudah didapat di daerahnya,” ujarnya.
Menurutnya, meski gizi kurang sudah menurun, Indonesia masih memiliki masalah kekurangan gizi juga anak pendek (stunting) yang menentukan kualitas anak. tertinggi ada di Indonesia Timur seperti Papua, Papua Barat dan Nusa Tenggara Timur.
Kemkes menyebutkan Riskesdas 2007, 2010 dan 2013 menunjukkan kecenderungan prevalensi kurus (wasting) anak balita dari 13,6 persen menjadi 13,3 persen dan menurun menjadi 12,1 persen, sedangkan kecenderungan prevalensi balita pendek (stunting) sebesar 36,8 persen, 35, 6 persen dan 2013 37,2 persen.
Sementara prevalensi gizi kurang underweight 18,4 persen menjadi 17,9 persen, 2013 19,6 persen. Prevalensi kurus anak sekolah sampai remaja Riskesdas 2010 sebesar 28,5 persen. (Jos)

No comments

Terimakasih, apapun komentar anda sangat kami hargai

Powered by Blogger.