Header Ads


Kebakaran Hutan Tinggi Diprediksi April - Juni

Ilustrasi kebakaran hutan.
Jakarta, Laras Post Online  - Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono mengatakan April hingga Juni 2014 diperkirakan 70 persen wilayah Indonesia memasuki musim panas dan akan kembali terjadi titik api.
“Untuk daerah rawan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Sumatera dan Kalimantan musim kemarau terjadi pada April, Mei dan Juni 2014, diprediksi akan kembali terjadi titik api,” katanya kepada pers di Jakarta, Kamis (27/2).
Rapat koordinasi itu dihadiri oleh beberapa menteri dan pimpinan lembaga terkait, seperti Menteri Dalam Negeri, Menteri Pertanian, Menteri Kehutanan,Kepala BMKG, Kepala BNPB, Wakil Gubernur Riau, Wakil Gubernur Kalimantan Tengah, dah beberapa pejabat lainnya dari K/L/pemprov terkait.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pun ditunjuk sebagai kepala tim penanggulangan bencana asap. BNPB tengah menyiapkan sewa pesawat dan helikopter untuk water bombing, dua helikopter sikorsky, dua helikopter kamov, dua pesawat amphibi be-200. Selain itu juga akan dilakukan modifikasi cuaca dengan mengerahkan enam pesawat casa dan dua pesawat hercules yaitu Hercules C-130 dan Pesawat CASA 212-200m.
Menurut Menkokesra, sebagian besar Karhutla yang terjadi karena dibakar dan bukan karena alam. Untuk itu, penegakan Hukum menjadi solusi utama. Aparat penegak hukum adalah dari Polri, Kejaksaan, PPNS Kemenhut, PPNS Kemtan, PPNS KLH dan PPNS Pemda. Pemda merupakan penanggung jawab terdepan dalam penanggulangan Karhutla yang didukung oleh Pemerintah Pusat.
Di tingkat pusat pemegang komando operasional adalah BNPB yang didukung oleh Kementerian atau Lembaga terkait. Kemkokesra bertindak sebagai Koordinator. Untuk tanggap darurat bencana asap tahun ini BNPB ditetapkan sebagai pemegang Kodal yang didukung oleh K/L dan bekerjasama dengan Pemda. Guna mengantisipasi hal tersebut, Pemerintah Pusat juga akan menyiagakan TMCN Water Bombing dari Udara, Manggala Agni, TNI-Polri, Satgas darat, Satgas Udara, Satgas Penegakan Hukum.
Adapun upaya pemadaman dilakukan oleh Satgas penanggulangan bencana asap yang terdiri dari Komandan Korem sebagai Incident Commander. Ke depan kata dia, perlu dibuat SOP sehingga terbangun sistem yang dapat dioperasikan secara otomatis dalam penanggulangan Karhutla mulai dari upaya pencegahan, saat terjadinya Karhutla dan pasca Karhutla. 

Ulah Pembakar Lahan
Di tempat terpisah, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif menyatakan bahwa 99 persen penyebab bencana asap yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia merupakan ulah seseorang yang membakar lahan dan hutan dengan sengaja.
Jika tidak ditindak, akan berulang terus. Pertanian dengan cara membakar memang ada di Sumatera dan Kalimantan, tapi yang penting terkontrol, kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho melalui siaran pers, meneruskan pernyataan Syamsul Maarif.
Menurut Sutopo, Kepala BNPB didampingi Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB Dody Ruswandi, mengatakan daerah gambut seperti di Riau memiliki ketebalan hingga 10 meter sehingga api akan sulit untuk dipadamkan karena baranya akan hidup lebih lama.
“Penegakan hukum yang diterapkan pada 2013 lalu yakni Polri telah menetapkan 23 tersangka di Riau dan 16 tersangka di Kalimantan Tengah. Namun, memang banyak faktor yang melatarbelakangi individu atau kelompok membakar lahan dan hutan seperti ekonomi, sosial dan budaya,” ujarnya.
Saat ini, jelas Sutopo, masalah bencana asap sedang dibahas di Sidang Kabinet yang dipimpin Presiden di Istana Negara. Selain itu, juga dibahas tindak lanjut penanganan bencana lain dan juga masalah ekonomi, politik, dan lainnya.
Keringnya musim penghujan di wilayah Sumatera dan Kalimantan telah menyebabkan bencana asap akibat pembakaran lahan dan hutan. Berdasarkan pantauan satelit NOAA18, titik api terpantau di Aceh 17, Kalimantan Timur 12, Kalimantan Barat 10, Sumatera Utara dan Kalimantan Utara sebanyak 4 titik api.
Titik api di Riau cukup menyu­litkan. Asap yang berasal dari lahan gambut yang terbakar tidak terpantau satelit. Berdasarkan analisis, asap yang ada di wilayah Malaysia dan Singapura bukan berasal dari Indonesia karena arah angin dominan dari utara hingga timur laut ke arah selatan dan barat daya.
Sementara itu, BNPB telah memasang rambu evakuasi dan papan informasi peringatan mengenai wilayah yang harus diperhatikan masyarakat dari luar maupun masyarakat setempat di sekitar lereng Gunung Sinabung.
BNPB menargetkan 84 rambu dan 26 papan informasi terpasang di titik-titik yang telah disurvei terlebih dahulu. Pemasangan rambu dan papan ini bertujuan sebagai peringatan larangan dan sosialisasi himbauan kepada masyarakat setempat mengenai wilayah atau radius yang berbahaya di sekitar Gunungapi Sinabung, kata Sutopo. 
BNPB, katanya, berkoordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dan pemerintah setempat dalam menetapkan lokasi dan pesan yang dicantumkan pada rambu dan papan informasi tersebut.
Adapun rambu-rambu yang dipasang antara lain, peringatan Berada di KRB I, II, III; peringatan berbentuk tulisan; petunjuk jalur evakuasi; petunjuk jalur evakuasi berbentuk panah; petunjuk titik kumpul sementara; petunjuk tempat pengungsian; dan portable larangan memasuki KRB Gunung Api.
Sementara papan  informasi yang dipasang antara lain, infor­masi titik kumpul; penanda tempat pengungsian, dan informasi memasuki kawasan KRB II Gunung Api.
BNPB telah memasang 31 rambu dan papan informasi di 11 desa, antara lain Pintu Besi 2 buah, Jeraya 2, Naman 5, Sukanalu 1, Suka Ndebi 2, Tiga Pancur 3, Sibintu 5, Guruh Kinayan 3, Tiga Nderket 5, Perbaji 1, Payung 1, dan Begading 1. (Jos)

No comments

Terimakasih, apapun komentar anda sangat kami hargai

Powered by Blogger.