Duh, Gepeng Kian Marak Di Kota Sukabumi
Sukabumi, Laras Post Online - Anggota DPRD Kota Sukabumi, Idod Juhandi menilai, Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsostek) tidak mampu menertibkan gelandangan dan pengemis (gepeng) yang kian marajalela di Kota Sukabumi. Terbukti, sampai saat ini jumlah gepeng semakin marak di sudut perkotaan Sukabumi.
“Yang memprihatinkan, belakangan ini hampir setiap sudut perkotaan Sukabumi dipadati gepeng. Di antara gepeng banyak terdapat anak-anak di bawah umur. Disayangkan sampai saat ini belum ada penanganan khusus dari Dinsostek Kota Sukabumi,” katanya di kantor DPRD Kota Sukabumi, Jalan Ir. H. Djuanda, Kota Sukabumi, Jumat (14/2).
Menurut Idod, lemahnya penertiban dan pembinaan gepeng di Kota Sukabumi karena tidak jelasnya program yang dilakukan Dinsostek Kota Sukabumi. Jika program penanganan gepeng berjalan, mungkin secara bertahap jumlah gepeng akan kian mengalami penurunan.
“Namun kenyataan di lapangan jumlah gepeng di setiap sudut Kota Sukabumi kian merajalela. Para gepeng selain memenuhi sejumlah tempat stopan lampu merah, juga pusat perbelanjaan dan tempat lain-lainnya di sudut perkotaan,” ungkapnya.
Idod mengatakan, merebaknya gepeng sangat memprihatinkan dan mengkhawatirkan. Lebih-lebih lagi di lapangan banyak ditemukan gepeng yang masih usia pelajar taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD).
“Akan tetapi, sangat disayangkan sejauh ini belum ada penanganan berarti yang dilakukan penertiban dari Dinsostek Kota Sukabumi,” katanya.
menegaskan, seharusnya Dinsostek tidak membuat alasan yang tidak rasional mengenai minimnya anggaran, sehingga program penanganan gepeng tidak bisa dilakukan secara kontinu.
“Harusnya Dinsostek dengan alokasi anggaran yang ada dapat menangani gepeng secara kontinu. Bukan malah sebaliknya seolah-olah membiarkan gepeng-gepeng yang ada,” ungkapnya.
Dia mendesak agar Disnsostek mengambil langkah segera menertibkan gepeng. Bila terus dibiarkan, kemungkinan ke depan setiap sudut Kota Sukabumi akan dipenuhi gepeng.
“Untuk itu, kami minta agar Dinsostek turun ke lapangan untuk menertibkan gepeng, “ katanya.
itu, Kepala Bidang (Kabid) Sosial Dinsostek Kota Sukabumi, Jamhur berkilah, belum optimalnya penanganan gepeng karena minimnya anggaran. Diakuinya tahun ini, pihaknya hanya diberi alokasi anggaran sebesar Rp 2 juta guna menangani gepeng.
Sejauh ini memang upaya melakukan penertiban gepeng di Kota Sukabumi masih belum optimal, salah satu kendalanya karena sangat minimnya anggaran guna menunjang kegiatan penertiban gepeng tersebut,” kata Jamhur.
Karena minimnya anggaran untuk menunjang kegiatan penertiban gepeng, telah menyebabkan gepeng di perkotaan Sukabumi kian mengalami peningkatan. Mereka selain beraktivitas menjadi pengemis, juga menjadi pengamanen jalanan. “Tidak sedikit gepeng yang usianya masih di bawah umur, “ katanya.
Oleh karena itu, tambahnya, untuk meningkatkan frekuensi penertiban, anggaran harus cukup. “Dengan begitu nantinya diharapkan penertiban gepeng optimal, “ ungkapnya.
Menurutnya, penertiban gepeng tidak hanya tanggung jawab instansi se penuhnya, namun harus menjadi tanggung jawab semua pihak. Dia berharap jumlah gepeng di Kota Sukabumi terus berkurang. Karena itu, secara bertahap ia akan berusaha mencari jalan keluarnya.
Satu upaya penanganan, pihaknya akan mengusulkan pembangunan rumah singgah untuk anak jalanan dan gepeng. “Pasalnya hingga saat ini Kota Sukabumi belum memiliki sarana rumah singgah untuk anjal maupun gepeng, “ katanya.(Edis)

.jpg)


Post a Comment