Diwawancarai BBC Soal Jugun Ianfu Di Pulau Buru
Peter A. Rohi
![]() |
| laporan bersambung saya di Harian Surya, Surabaya. Tampak saya bersama Muka Lomi, perempuan Sabu yang menadi istri pendeta suku primitif di lereng Gunung Rana. |
Investigasi saya menyusul film dokumentasi yang saya buat bersama Metro TV tahun 2008 rupanya akan lama menjadi topik. Setelah menjadi bahan seminar di Harvard University, Tokyo, Shanghai, dan beberapa negara di Eropa, hari Jumat kemarin saya diwawancarai BBC London.
Saya sendiri terinspirasi oleh buku Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer. Tetapi setelah saya melacak nama2 dalam buku Pram semua sudah meninggal. Akhirnya dengan bantuan sahabat Jalil Latuconsina kami mnenemukan nama2 lain yang tidak disebutkan dalam buku Pram.
Hasil investigasi kami mencatat sekitar 20 anak remaja dari Jawa, umumnya para putri ambtenar berpendidikan Schachel shool dan seorang putri dari Korea sebagai Jugun Ianfu yang tertinggal ketika tentara Jepang dilucuti Sekutu 1945. Perempuan2 itu disembunyikan ke lereng gunung Rana melalui jalan sungai, tetapi di sana mereka disergap suku primitif dan dibagi-bagikan pada kepala suku.
![]() |
Saya masih menemukan Nya Sengker 80 th, namanya sebenarnya Soemiati, putri seorang ambtenar bernama Boestaman, asal Semarang serta Muka Lomi- 79 th (yang tertulis Muka (Lomin), perempuan asal Pulau Sabu yang dibawa dari Surabaya.
Kini keduanya sudah meninggal dunia sehingga pihak BBC mewawancarai saya sebagai wartawan satu2nya yang melacak penemuan Pram itu.Medan yang sangat sulit dan hujan terus-menerus dan banjir menyebabkan kami terhambat menemui dua lainnya yang hidup di lereng gunung Rana. Di sebuah desa adat di seberrang Desa Wapsalit yang tidak boleh dimasuki orang asing saya mendapat izin dari penguasa gunung untuk masuk ke dalamnya. Kami harus menyeberangi sungai Waigeren dengan berenang. Pendeta agama primitif di situ beristrikan Muka Lomi, yang ketika melihat kedatangan saya menyangka saudaranya telah datang menjemputnya.
Berkali-kali kami datang dan melakukan berbagai cara, akhirnya kami diminta mengangkat sumpah bahwa kedatangan kami bermaksud baik, dan tidak akan membawa kembali "mama" mereka keluar dari kampung adat. Begitu juga saat menemui Nya Sengker yang menjadi "mama adat" suku Bessan. baru mau bicara setelah melakukan acara ritual dua hari dua malam, baru berani mengisahkan asal-usul sebenarnya.
Nya Sengker mengatakan mereka diangkut dengan kapal dari Semarang tahun 1943 dengan tujuan Tokyo. Mereka dijanjikan akan disekolahkan untuk menajdi perempuan2 pembangun Nusantara kelak sesudah merxdeka. Ternyata di tengah laut mereka dibelokkan ke Jailolo di Pulau Halmahera. Dari sana mereka dibagi ke pulau2 kecil tempat pertahanan Jepang.
Yang paling kontroversi adalah Nya Sembar, yang bernama asli Sitti Fatimah. Putri Wakil Wedana Subang. R. Singadikarta sejak awal memang tidak mau pulang agar tidak memberi aib pada keluarga. Tetapi ia berpesan pada putra satu2nya yang bernama Selang (Syarif), agar mencari keluarganya di Subang. "Asal mereka ingat mama, dan tidak malu mengakui mama," kata Selang mengulangi pesan ibunya. Mengutip kisah ibundanya, Selang mengatakan mama sebenarnya tidak mau ikut Jepang, tapi Jepang mengancam akan membunuh Sang Wakil Wedana dan dua saudara laki2nya. Akhirnya tak ada pilihan bagi mama, selain mengikuti Jepang untuk menyelamatkan Ayah dan dua saudaranya kata Selang.
Berbeda dengan kisah Sutinah di Buru Selatan yang pernah ditolong seorang Tionghwa kembali ke Jawa, tidak lagi menemukaqn kampung halamannya di Klaten dan sanak keluarganya. Ia kemudian memilih kembali hidup nomaden bersama suku2 primitif.
Jugun Ianfu meng-islam-kan ribuan orang suku primitif.
Kecuali Muka Lomi yang semula beragama Kristen. tiga perempuan lain kami catat sebagai pengembang2 agama Islam di tengah suku2 primitif yang masih memakai cawat di lereng2 gunung Rana. Ribuan orang dan suku2 menjadi Islam di sana bukan oleh seorang kiai besar, bukan oleh para ustad selebritis di TV2 tapi oleh pengabdian terakhir para perempuan jugun ianfu.
Dari pada pulang diterima dengan berbagai aib, adalah mulia mengislamkan orang2 primitif di lereng2 gunung Rana. Itulah yang dilakukan Nya Sembar, Nya Sengker, dan Muka Jawa. Muka Jawa sangat dikenal sebagai "tukan g sunat perempuan". Di dunia para jugun Ianfu ini pasti dianggap hina (seperti pengakuan seorang mantan jugun ianfu yang dihina dalam sebuah kelompok pengajian ibu2 di Jawa Tengah), di hadapan Allah mereka sama mulianya dengan ciptaanNYa yang lain.







Post a Comment