Menteri Ferry Dorong IPB Bentuk Pusat Studi Agraria
| Menteri Ferry Mursyidan Baldan bersalaman dengan Rektor IPB Prof. Dr. Herry Suhardiyanto. |
Jakarta, Laras
Post - Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Kepala Badan Pertanahan
Nasional (BPN), Ferry Mursyidan Baldan, mendorong Institut Pertanian Bogor
(IPB) untuk membentuk Pusat Studi Agraria.
“Salah satu kami meminta IPB
untuk menghidupkan kembali Pusat Studi Agraria adalah karena pada saat ini,
apabila membicarakan tentang agraria, banyak orang yang kehilangan jejak,” ucap
Menteri Ferry usai menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan
Rektor IPB Prof. Dr. Herry Suhardiyanto dan memberikan kuliah umum dengan tema
“Kebijakan Reforma Agraria dan Pengendalian Pemanfaatan Ruang untuk Mendukung
Ketahanan Pangan Nasional”.
Dalam kuliah umum di Gedung
Andi Hakim Nasoetion, Kampus IPB Dramaga, Bogor, Selasa (26/05), yang diikuti
oleh seluruh civitas akademika IPB tersebut ia Menteri Ferry mengungkapkan sampai
sekarang belum ada data yang pasti mengenai berapa luas sawah produktif di
Indonesia. “Pusat Studi Agraria ini akan menjadi guidance dari proses bagaimana
mengelola sumber daya agraria yang dapat memberikan kesejahteraan kepada
masyarakat,” katanya.
Menteri Ferry juga
menyampaikan bahwa pengembangan kawasan memiliki banyak kendala. Saat ini
banyak pembentukan kawasan bukan untuk dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat.
Untuk itu ia mengajak seluruh civitas akademika IPB membantu Kementerian
ATR/BPN dalam mengkaji problem pengembangan kawasan ini. “Kita tentu tidak
ingin menjadi orang yang berdosa karena mewariskan kondisi pertanahan yang
sedemikian rupa,” tegas Ferry.
Ferry juga mengkritik kawasan
Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Menurutnya
Jabodetabek bukanlah didesain untuk menyokong Jakarta. Dengan pemikiran seperti
itu dalam mengelola kawasan Jabodetabek, hanya akan menumbuhkan semangat
eksklusivitas. “Saya kira kita harus menerapkan pola kerjasama untuk
menyelesaikan masalah ibukota,” kata Ferry.
Ferry mengatakan bahwa
pertanian merupakan elemen penting dalam kedaulatan pangan. Menurutnya,
ketangguhan suatu negara dapat dilihat apakah negara itu mampu berdaulat dalam
hal pangan. Ia juga mengatakan sedih jika Indonesia hanya menjadi pengimpor
beras saja. “Kita tidak perlu khawatir maraknya penjualan beras sintetis
apabila kita mampu mewujudkan kedaulatan pangan,” katanya.
Pada kesempatan tersebut Ferry
juga berpesan agar jangan sampai mengabaikan aspek tata ruang. Ia menyampaikan
bahwa kebijakan yang dibuat oleh Kementerian ATR/BPN adalah mengutamakan
terbentuknya ruang-ruang untuk publik.
Selain memberikan kuliah umum,
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional juga
menandatangani MoU antara Kementerian ATR/BPN dengan IPB. MoU ini bertujuan
untuk mempererat kerjasama antara Kementerian ATR/BPN dengan IPB, khususnya
membantu Kementerian ATR/BPN dalam menyusun kebijakan di bidang agrarian. (Her)



Post a Comment