PRAHARA DEMOKRASI MAJU VS MUNDUR
![]() |
| Ilustrasi Kepala Daerah |
Alimudin, Alumnus IISIP Jakarta
Ketua Komite Independent Pemilukada Depok
Depok,Laras Post Online - Proses pembahasan RUU Pemilikada oleh DPR diwarnai oleh prokontra
antara kubu yang menginginkan Kepala Daerah dipilih melalui sistem perwakilan
yaitu anggota DPRD-lah yang melakukan pemungutan suara untuk memilih Kepala
Daerah, sedangkan kubu yang lain menginginkan Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA)
dilakukan secara langsung, yaitu oleh rakyat selaku pemegang Kedaulatan.
Salah satu argumentasi dari kubu
yang menginginkan pemilihan tidak langsung didasari oleh pandangan bahwa
berjalannya proses Pemilukada selama ini sudah terlalu banyak menghabiskan
anggaran dan rawan dengan praktek politik uang (Money Politic) dan jual
beli suara.
Kubu yang menginginkan tetap
berjalannya Pemilukada langsung berargumentasi bahwa rakyatlah pemegang
kedaulatan yang sejati, maka ditangan mereka pula melekat hak politik memilih
dan dipilih. Pemberlakuan sistem perwakilan dalam praktek politik lokal di
Indonesia lebih didasari oleh pertimbangan-pertimbangan yang bersifat teknis
ekonomis, yaitu Efesiensi dan efektifitas dalam penyelenggaraan Pemilukada.
MEMINIMALISIR
ATAU MELOKALISIR
Argumentasi yang menyatakan bahwa
biaya penyelenggaraan Pemilukada Langsung terlalu mahal dan oleh karenanya
perlu diminimalisir.Selain itu, dinyatakan juga bahwa penyelenggaraan
Pemilukada Langsung rawan dengan praktek Money Politic dan jual beli suara.
Mencermati argumentasi-argumentasi tersebut, patut kita bertanya, Apakah
benar penyelenggaraan Pemilukada Langsung lebih mahal biayanya dibandingkan
dengan Pemilukada tidak langsung?
Dari sisi alokasi anggaran
pemerintah (mungkin) itu benar mengingat alokasi anggaran yang harus
dikeluarkan meliputi keseluruhan tingkatan penyelenggaraan Pemilukada,mulai
dari KPUD Propinsi,Kabupaten/Kota sampai dengan kelompok Penyelenggara
Pemungutan suara (KPPS) di tingkat RT/RW. Tetapi kita juga harus mencermati
biaya politik dari sisi kandidat Kepala Daerah, Apakah Benar kalau Pemilukada
tidak Langsung biaya yang dikeluarkan Kandidat lebih sedikit dibandingkan
dengan Pemilukada Langsung?
Untuk menjawab pertanyaan ini, kita
dapat mencermati perilaku politik para anggota DPRD, termasuk prilaku Aparatur
Partai Politik. Selama ini secara kasat mata terpampang jelas para kandidat
yang mencalonkan diri dalam Pemilukada Tidak Langsung harus mendapatkan
dukungan dari Partai Politik atau gabungan Partai Politik. Pada kenyataannya
dukungan itu akan didapatkan oleh Kandidat apabila ada sejumlah biaya dengan
nominal tertentu yang dikeluarkan sebagai “Mahar Politik.”
Selain Mahar yang harus dikeluarkan
kepada Partai Politik Pengusung tentunya ada hal lain dalam hal ini proses pada
kandidat. Pada momentum menjelang hari H pemungutan suara, Kandidat juga
harus”Mengamankan”Peluang Kemenangannya dengan cara melakukan Komunikasi dengan
para anggota DPRD yang akan memilihnya nanti. Tentu saja itu juga tidak gratis.
Berdasarkan fakta-fakta tersebut
argumentasi yang menyatakan bahwa Pemilukada Tidak Langsung lebih murah
biayanya patut diragukan kebenarannya. Karena pada kenyataannya, biaya yang
harus dikeluarkan Kandidat Kepala Daerah tidaklah sedikit, bahkan sangat
mungkin lebih banyak dibandingkan dengan Pemilukada Langsung. Yang jelas,
Pemilukada Tidak Langsung yang terjadi adalah melokalisir alokasi anggaran yang
tadinya terdistribusi kemasyarakat menjadi hanya jatuh ketangan para anggota
DPRD dan Partai Politik Pengusungnya.
Persoalan Pemilukada Tidak Langsung
rawan dengan Politik Uang dan Jual Beli Suara justru semakin terkuatkan itu
berlangsung apabila dilakukan pemilihan oleh DPRD. Alasannya karena
pemilihannya dilakukan secara tertutup dan rakyat sama sekali tidak memiliki
akses mengawasi dan mengontrol proses-proses yang berlangsung didalam
Pemilukada tidak langsung.
SIAPA YANG
DIUNTUNGKAN
Dari berbagai Argumentasi dan
perdebatan yang muncul kepermukaan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang
kiranya patut dilontarkan, Siapa sebenarnya yang diuntungkan ataupun yang
dirugikan apabila dilaksanakan Pemilukada tidak Langsung,? Apakah rakyat
sebagai pemegang Kedaulatan diuntungkan ataukah wakil rakyat beserta partai
politik yang diuntungkan?, Siapa pula yang dirugikan apabila Pemilukada tidak
Langsung dipaksakan untuk dilaksanakan?
Merujuk kepada pendapat Harold
Laswell salah seorang teoritisi Politik dari Amerikat Serikat, yang menyatakan
Teorinya dalam satu kalimat singkat tapi padat, Siapa mendapat apa? (Who Gets
What)
Pandangan Laswell tersebut
berdasarkan atas hasil pengamatannya terhadap praktek politik yang terjadi
diberbagai belahan dunia pasca Perang Dunia II.Dari teori laswell tersebut
dapat di simpulkan bahwa politik pada hakekatnya adalah satu area pertaruhan
atau tarik menarik kepentingan yang secara singkat digambarkan dalam teorinya
tersebut.
Disisi lain, Politik secara longgar
dapat juga dimaknai sebagai sebentuk aktifitas kreatif manusia didalam
meraih,mengelola,dan mempertahankan kekuasaan
Dari dua pandangan diatas, dapatlah
kita rumuskan sebuah jawaban, bahwa tarik-menarik antara Pemilukada Langsung
dengan Tidak Langsung pada dasarnya adalah sebuah pertaruhan atau pertarungan
kepentingan antara dua kubu yang saling berseberangan. Kubu yang menginginkan
Pemilukada Tidak Langsung jelas tergambar kepentingannya didalam meraih
kekuasaan, atau paling tidak sebagai upaya meningkatkan posisi tawar
(Bargaining Posistion) mereka.
Kekalahan kubu Koalisi Merah Putih
didalam Pilpres yang baru lalu mereka balas kekalahannya dengan memaksakan
Pemilukada tidak Langsung.Hal ini dilakukan sebagai “Kompensasi” Politik atas
kekalahan mereka di Pemilihan Presiden dan sekaligus itu merupakan strategi”Daerah
Mengepung Pusat”,dimana nantinya ketika daerah-daerah terkuasai oleh mereka
melalui Pemilukada tidak Langsung maka Pemerintahan Jokowi-JK akan menjadi
tidak berkutik.
Pada akhirnya Pemerintahan
Jokowi-JK dengan sendirinya akan terdelegitimasi manakala kebijakan-kebijakan
yang dikeluarkan tidak efektif berjalan didaerah-daerah, terutama daerah-daerah
yang dikuasai oleh pihak oposisi, dalam hal ini Koalisi Merah Putih.(David/tim)




Post a Comment