Header Ads


Mari Elka Pangestu Membuka Pameran Seni Rupa Keramik kontemporer di Galnas

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu  saat membuka pameran Seni rupa keramik kontemporer di Galeri Nasional, Selasa (23/9).
* JCCB#3 Bertemakan Coefficient of Expansion

Jakarta, Laras Post Online - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Mari Elka Pangestu membuka pameran The Third Jakarta Contemporary Ceramics Biennale (JCCB#3) yang bertemakan Coefficient of Expansion di Galeri Nasional Selasa besok, (23/9) Pukul 19.00 WIB. 
The Third Jakarta Contemporary Ceramics Biennale merupakan salah satu program unggulan Direktorat Pengembangan Seni Rupa, Direktorat Jenderal Ekonomi Kreatif Berbasis Seni dan Budaya, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Jakarta Contemporary Ceramics Biennale (JCCB) digagas oleh dua orang kurator yang berlatar belakang pendidikan keramik; Asmudjo J. Irianto (juga dikenal sebagai pengajar di FSRD – ITB) dan Rifky Effendy (kurator independen). Walaupun dikenal sebagai kurator seni rupa kontemporer sejak awal, namun keduanya tetap memimpikan terselenggaranya pameran besar dua tahunan seni keramik dengan batasan yang lebih cair dan luas. Pada tahun 2009, gagasan itu terlaksana dengan dukungan dari North Art Space (NAS), di Jaya Ancol, Jakarta
Dalam penyelenggaraan bienial keramik pertama di Indonesia (2009), ada beberapa hal yang mendasari.
• Eskalasi aktifitas pameran seni rupa kontemporer dalam beberapa tahun terakhir ini, memberi ruang bagi karya-karya objek dan patung dengan medium keramik, baik sebagai medium utama maupun sebagai elemen dalam karyanya.
• Munculnya pemikiran dan pemahaman baru terhadap dunia seni rupa kontemporer dan praktisi seni keramik. Forum-forum internasional seni keramik di Asia bermunculan, terutama di Taiwan dan Korea,begitupun interaksi diantara seniman keramik yang semakin intens seiring dengan kemudahan informasi dan komunikasi. Sehingga mereka semakin sadar bagaimana berhadapan dengan medan sosial (kapital) seni rupa saat ini, baik dalam konteks lokal, regional maupun internasional.
• Keberagaman bentuk idiom seni keramik yang luas akan masih terus berkembang dan juga menjadi potensi bagi publik untuk mengapresiasi lebih jauh, bagaimana dunia keramik bermakna pada aspek kehidupan sebuah budaya masyarakat saat ini.
Seni Rupa Kontemporer disebut-sebut adalah seni rupa yang plural dan membolehkan apapun sebagai seni (anything goes). Sepertinya era seni rupa kontemporer membuka peluang bagi para seniman keramik untuk masuk ke dalamnya. Namun kenyataannya tidaklah demikian. Agaknya, di negara-negara maju, establishnya medan seni keramik sebagai entitas yang terpisah dari medan seni rupa kontemporer justru menyulitkan upaya seniman keramik menjadi bagian praksis seni rupa kontemporer. Lagi pula, bagi seniman-seniman keramik yang mengutamakan perkara medium, teknik dan ketrampilan maka kredo anything goes tentu saja menjadi paradoks.
Kemapanan seni keramik sebagai wilayah terpisah kadang mendatangkan dilema, di satu sisi wilayah seni keramik kontemporer harus mengakomodasi warisan dan tradisi dan sejarah seni keramik masa lalu, di sisi lain para seniman keramik kontemporer juga tak lepas dari pengaruh seni rupa kontemporer yang bernuansa avant-garde. Tentu saja hal ini bisa dilihat sebagai pluralitas seni keramik, namun di sisi lain hal itu menjadikan paradigma seni keramik ambivalen dan paradoks. Banyak seniman keramik yang anti terhadap paradigma seni rupa kontemporer, yang serba instan, dan dinilai dekaden, karena itu mereka tak ingin menjadi bagian dari seni rupa kontemporer. Sebaliknya tak kurang seniman keramik yang ingin menjadi bagian praktek produksi dan konsumsi seni rupa kontemporer.
Berbeda dengan negara-negara Asia Timur seperti Jepang, Korea, Taiwan dan China, Indonesia tidak memiliki tradisi keramik yang canggih, karena itu modal kultural, teknologi dan apresiasi masyarakat terhadap seni keramik rendah. Bukan hal yang mengherankan jika perkembangan seni keramik jauh dari pesat. Namun hal ini juga menjadi blessing in disguese. Tidak establish sebagai wilayah khusus, menyebabkan seniman keramik kontemporer di Indonesia tidak berhadapan secara diametrikal dengan seni rupa kontemporer. Karena itu mudah saja bagi seniman keramik di Indonesia menjadi bagian dari seni rupa kontemporer. Hal ini di antaranya disebabkan pula belum establishnya infrastruktur seni rupa kontemporer di Indonesia, sehingga kebutuhan dan kecanggihan untuk melakukan dan membenarkan eksklusi terhadap praktek seni rupa yang tidak sejalan dengan paradigmanya (misalnya: seni keramik) boleh dikatakan tak terjadi.
Beberapa tahun terahir ini cukup banyak seniman keramik yang bisa meleburkan ke dalam medan seni rupa kontemporer. Agaknya dorongan untuk mencari alternatif dari seni lukis dan media baru, membuka peluang bagi para seniman keramik untuk masuk dalam wilayah produksi dan konsumsi seni rupa kontemporer.
Perbedaan mendasar ajang seni keramik di negara lain dengan yang dilakukan di Indonesia, yaitu JCCB mengundang perupa keramik dan non-keramik serta cenderung melebarkan konsepsi medium keramik dari batasan disiplin keramik.
Sejarah  Singkat JCCB
1. JCCB#1
JCCB#1 dengan tema Ceramic Art: In Between, dikuratori oleh Asmudjo Jono Iriato dan Rifky Effendy, diikuti oleh seniman-seniman Asia Tenggara, Amerika, Australia, dan Eropa. Penyelenggaraan saat itu adalah di North Art Space (NAS) dimana NAS juga menjadi sponsor utama. Karya-karya yang ditampilkan beragam yaitu mulai dari pottery, patung, video, performance, dan instalasi. Program pameran terdiri dari seminar dan workshop. Pameran ini mendapat apresiasi yang sangat baik dari publik, pemerhati seni, media juga para seniman.

2. JCCB#2
JCCB#2 mengusung tema Crafting Identity, kali ini dikuratori oleh Sujud Dartanto yang didampingi oleh Asmudjo Jono Irianto dan Rifky Effendy sebagai penasehat. Penyelenggara saat itu adalah Museum Seni Rupa dan Keramik yang menggandeng North Art Space sebagai partner, dimana keduanya juga menjadi tempat pameran. Seniman-seniman yang terundang juga lintas internasional dengan program yang masih sama yaitu seminar dan workshop, tetapi dengan tema seminar yang lebih serius dan workshop yang lebih spesifik. Karya-karya yang ditampilkan lebih beragam, berani dan spontan, dimana lebih banyak karya instalasi, video serta performance yang semakin menarik.

3. JCCB#3
Penyelenggaraan JCCB#3 kali ini dikemas berbeda dengan kedua bienial sebelumnya, dimana karya-karya diklasifikasi menjadi seni (art), desain, kriya (craft) dan tradisi. Tema yang diangkat oleh kurator Asmudjo J Irianto dan Rifky Effendy adalah  COEFFICIENT OF EXPANSION (1) , suatu metafora terhadap praksis keramik termutakhir yang kian ekstensif. 
Keterlibatan seniman internasional lebih banyak dibanding kedua penyelenggaraan sebelumnya, juga keterlibatan seniman Indonesia baik seniman keramik dan seniman lintas disiplin yang  lebih beragam. Selain itu berpartisipasi pula  industri keramik (2) dan studio-studio keramik perorangan (3)
Program yang berbeda dengan penyelenggaraan kedua bienial sebelumnya, yaitu pemberian kesempatan residensi kepada beberapa seniman (terseleksi) baik nasional maupun internasional. Seniman-seniman tersebut berkarya di beberapa lokasi yaitu di industri keramik Tanteri di Pejaten Bali, di desa gerabah Pager Jurang, Bayat, Klaten, Jawa Tengah, di komunitas seni Jatiwangi Art Factory di Jatiwangi, juga di perguruan tinggi ITB di Bandung, Jawa Barat. 
Program pendidikan masyarakat (edukasi publik) yaitu simposium, bincang seniman, dan lokakarya, pada JCCB#3, dikemas lebih matang.Simposium kali ini dengan tema Friction within Cohesion (4), mengundang kurator internasional sebagai salah satu narasumber.
JCCB#3 selain bekerja sama dengan KEMENPAREKRAF sebagai penyelenggara utama, juga melibatkan lembaga-lembaga budaya internasional yang mendukung seniman internasional dalam pemberian bantuan pendanaan (grant atau arts fund) untuk bisa berpartisipasi dalam JCCB#3. Lembaga-lembaga seni tersebut umumnya membantu seniman dalam membantu membiayai kedatangan dan kepulangan seniman. Sementara untuk transportasi karya seniman, selain beberapa seniman membiayai sendiri pengiriman karyanya, JCCB#3 juga bekerja sama dengan jasa logistik internasional.
1.Penjelasan tentang Coefficient of Expansion, bisa dibaca di penjelasan kurasi
2.Industri keramik yang dimaksud adalah industri yang masih melibatkan sumber daya manusia (pengrajin) bukan mesin (pabrik)
3.Studio perorangan yang dimaksud adalah para seniman keramik baik yang terdidik di perguruan tinggi seni maupun yang otodidak (sanggar), yang dengan tekun berkarya dan berproduksi di studio pribadinya.
4.Friction within Cohesion – friksi atau gesekan adalah yang terjadi ketika mengkombinasikan keramik dengan media lainnya, dimana hal teknis menjadi pertimbangan artistik dan konsep seniman. 

COEFFICIENT OF EXPANSION
“Coefficient of Expansion”, sebagai tema  yang dipilih dalam event The Third Jakarta Contemporary Ceramics Biennale (JCCB#3), memang merupakan terminologi teknis dalam proses pembakaran keramik. Namun pilihan terminologi yang dimaksud, sesungguhnya lebih beroperasi sebagai metafora terhadap praksis keramik termutakhir yang kian ekstensif.Ruang lingkup seni keramik tak bisa begitu saja ditinjau sebagai bagian dari seni rupa kontemporer.Hal ini berkait erat dengan eksklusifitas paradigma seni modern Barat, yang telah mengasingkan berbagai bentuk kesenian tertentu sebagai bukan bagian dari seni rupa modern.Karakteristik  praksis seni keramik, yang antara lain memiliki aspek-aspek kerajinan/teknik, dekorasi, dan fungsi, merupakan hal yang dianggap tak penting dalam seni rupa modern. Hal inilah yang menyebabkan seni keramik diletakkan di areal craft –belakangan dikenal dengan istilah contemporary craft–, dan sering hadir dalam bentuk hibridanya: craft-art (menampakkan sensibilitas craft dengan intensi seni). Meskipun peletakkan keramik seni di bawah domain craft ini terjadi di dalam diskursus seni rupa Barat, pengaruhnya telah tersebar ke seluruh penjuru dunia. Harus disadari jika seni keramik di Barat memang diposisikan di bawah institusi craft, seperti yang bisa ditemui pada dewan kerajinan tangan, galeri craft, jurnal craft, dan event-event bienalle/triennale craft.
Idiom  “apapun boleh” dan medan seni rupa kontemporer yang plural tak lagi menekankan pentingnya hierarki material. Maka dari itu dimungkinkan bagi seniman keramik untuk turut ambil bagian di dalam seni rupa kontemporer. Saat ini ada banyak seniman keramik yang telah meraih pengakuan internasional, bahkan dianggap sebagai figur-figur penting di medan seni rupa kontemporer global. Di lain pihak ada banyak tempat-tempat di dunia yang berhasil mempertahankan seni keramik tradisionalnya (meskipun jumlahnya semakin berkurang), dan menyumbangkan pengaruh bagi kesenian dekoratif lokal dan beragam bentuk kesenian tradisional. Selain itu, dalam konteks seni dekoratif dan seni terapan (desain), hadir berbagai studio dan industri keramik yang memainkan peranan penting dalam memperkaya medan seni keramik. Maka dari itu tak mudah untuk menunjuk secara tepat batasan “seni keramik”.Batasan ini bisa saja dikaitkan dengan seni keramik tradisional, kerajinan kontemporer, seni dekoratif, atau bahkan desain dan seni rupa kontemporer—termasuk di dalamnya para seniman yang telah berkali-kali menciptakan karya keramik. Praksis seni keramik memang telah mengalami perkembangan yang cukup ekspansif, tema “coefficient of Expansion” pada JCCB terbaru ini tak hanya mempertahankan hubungan yang erat dengan perkembangan termutakhir, namun juga ditujukan sebagai upaya menginvestigasi “koefisien penentu” yang memicu perkembangan dari praksis seni keramik.

Peserta pameran 
The Third Jakarta Contemporary Ceramics Biennale ini melibatkan 42 peserta dari Seniman Indonesia dan 30 Peserta dari Seniman Internasional yang terbagi dalam kategori karya Art, Desain dan Craft. Berikut peserta JCCB#3 :
Agung IVAN – Indonesia
Ahadiyat JOEDAWINATA – Indonesia
Ahmad ABU BAKAR – Singapore
Akbar Adhi SATRIO – Indonesia
Alfredo EANDRADE – Argentina
Amornthep MAHAMART -Thailand
Antonio S. SINAGA – Indonesia
Antra SINHA – India
Argha Dhyaksa NINDITA – Indonesia
Asep Maulana HAKIM – Indonesia
Bagus PANDEGA – Indonesia
Bonggal HUTAGALUNG – Indonesia
Brett Alex THOMAS – United States
Budi PRADONO – Indonesia
Clei Pottery – Indonesia
Dadang CHRISTANTO – Indonesia
Dea WIDYA – Indonesia
Delia CELINA – Singapore – Romania
Eldwin PRADIPTA – Indonesia
Elena  GORAY – Netherland
F. WIDAYANTO – Indonesia
Fauzi ADHIKA – Indonesia
Geoffrey TJAKRA – Indonesia
Graciela OLIO – Argentina
HA sungmi – Korea
Jatiwangi Art Factory – Indonesia
JENGGALA – Indonesia
Jinjit Pottery – Indonesia
KANDURA – Indonesia
KAR – Indonesia
Keramik Puspa – Indonesia
Keramiku – Indonesia
KIM Joon – Korea
Kjersti LUNDE – Norway
Klaus GUTOWSKI – Australia
Kollekan – Indonesia
Kristina RUTAR – Slovenia
Lea GEORG – Switzerland
Linda SORMIN – Canada
Madhvi SUBRAHMANIAM – Singapore/India
Mark VALENZUELA – Australia/Phillipine
Natas SETIABUDHI – Indonesia
Nur HARDIANSYAH – Indonesia
PURNOMO – Indonesia
R. Yuki AGRIARDI – Indonesia
Radi ARWINDA – Indonesia
Rosanto Bima PRATAMA – Indonesia
Roslan AHMAD – Malaysia
Rudi ABDALLAH – Indonesia
RukuRuku – Indonesia
Sarah YOUNAN – Wales
Sekarputi SIDHIAWATI – Indonesia
Shamsu MOHAMAD – Malaysia
Steven LOW Thia Kwang – Singapore
SHU-LIN Wu – Taiwan
Tanteri Ceramic – Indonesia
Terra Luna – Indonesia
Tetsuya ISHIYAMA – Japan
TOK Yu Xiang – Singapore
Tomoko KONNO – Japan/Indonesia
VULANTRI – Indonesia/Netherlands
WAN Liya – China
Wasinburee SUPANICHVORAPARCH – Thailand
Yeesookyung – Korea
YI Hui Wang – Taiwan
Yoichiro KAMEI – Japan
Yuli PRAYITNO – Indonesia
Zia FAUZIANA – Indonesia
(Sugih)



No comments

Terimakasih, apapun komentar anda sangat kami hargai

Powered by Blogger.