Header Ads


Jaga Ketahanan Pangan BPS Minta Presiden Terpilih Batasi Konversi Lahan Pertanian

Lahan pertanian mengalami penyusutan akibat alih fungsi
yang terus berlangsung. (Inset: Kepala BPS Suryamin)
Jakarta, Laras Post Online – Badan Pusat Statistik (BPS) menyarankan agar Presiden Terpilih Joko Widodo membatasi  konversi lahan produktif menjadi perumahan dan pabrik. BPS mencatat konversi lahan produktif menjadi perumahan dan pabrik, merupakan salah satu penyebab berkurangnya lahan pertanian di Indonesia. Kepala BPS Suryamin menyatakan, berkurangnya lahan pertanian disebabkan oleh  konversi lahan produktif menjadi perumahan dan pabrik, sehingga ketahanan pangan nasional menjadi terganggu. 
Menurutnya, jika kodisi itu dibiarkan, artinya pemerintahan baru malah melakukan blunder dalam menjaga ketahanan pangan. Padahal salah satu visi Jokowi adalah menciptakan swasembada pangan selama memimpin hingga 2019. “Kalau perlu (Presiden Terpilih -red) bikin aturan melarang terjadinya konversi lahan pertanian subur,”  Tegasnya, Kamis (11/9/2014) di Jakarta.
Suryamin mengatakan, perlu adanya aturan pertanahan yang jelas, Sebab selama ini banyak pengembang perumahan maupun investor menggunakan lahan hijau untuk membangun perumahan dan pabrik. “Kalau mau bangun rumah di lahan kering saja, jangan di daerah pertanian yang masih produktif,” ujarnya.
Lebih lanjut, Kepala BPS menyebutkan, program Jokowi untuk mencetak ribuan lahan pertanian baru, dapat diwujudkan.  
Ia mengungkapkan, berdasarkan, data Sensus Pertanian yang terakhir disusun pada 2013 termasuk memetakan wilayah-wilayah potensial untuk menjadi lahan pertanian. Menurutnya data itu, bisa digunakan presiden terpilih untuk merealisasikan program membuka lahan pertanian baru. ‘Misalnya untuk membuka lahan komoditas jagung di daerah mana saja, itu sudah ada,” ucapnya.
Disebutkan, jumlah lahan pertanian yang dialih-fungsikan cukup tinggi setiap tahunnya, tercatat hampir 100.000 hektar lahan pertanian beralih fungsi. Akibatnya, 5 juta rumah tangga yang menggantungkan hidup pada pertanian kehilangan mata pencaharian dalam satu decade terakhir. (her)

No comments

Terimakasih, apapun komentar anda sangat kami hargai

Powered by Blogger.