Prilaku Seksual Pernikahan Cendrung Naik
Laras Post Online - Surabaya, 12/6 - Perilaku seksual pranikah pada usia remaja 15 - 24 tahun di Indonesia cenderung naik lantaran belum optimalnya pendidikan keluarga sejahtera dan rendahnya tingkat pendidikan dan pemahaman para remaja terhadap risiko hubungan seks diluar nikah.
Tren kenaikan itu dapat dilihat sejak lima tahun terakhir 2007 - 2012 terhadap survey Demografi dan Kesehatan Indonesia, dimana prilaku seksual pra nikah pada tingkat remaja menjadi 8,3 persen dari total remaja yang disurvey, kata Dr. Agustin Kusumayati, dosen fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, pada seminar memperingati hari keluarga nasional ke 21 di Surabaya, Kamis.
Seminar yang mengambil tema, Remaja Berkualitas Indonesia Sejahtera itu, Agustin mengatakan, pengaruh kenaikannya antara lain dari media masa, cetak, TV dan radio, web on line dan jejaring sosial lainnya serta pengaruh teman sebaya yang pernah melakukan hubungan seks pra nikah.
Media yang terbuka, kurangnya sensor film-film purno yang mudah diunggah lewat media on line, punya pengaruh cukup tinggi lebih dari 60 persen, dan 18 - 21 prsenya dari pengaruh teman sebaya yang sudah melakukannya, sisanya adanya teman intim/pacaran sebellum usia dewasa.
Agustin mengingatkan, jika pemerintah tidak dapat mewujudkan pembangunan keluarga sejahtera, kerusakan ditingkat remaja akan kian parah, bukan hanya meningkatnya hubungan seks pra nikah pada usia remaja, tetapi juga penggunaan narkoba dan pemutaran filem purno akan kian marak, mengingat selama ini pelaku terbesar hubungan pra nikah lulusan SD dan tamaan SMP.
Oleh karenanya, pengaturan keluarga sejahtera seperti pengaturan jumlah anak dan penundaan kawin usia muda harus terus disosialisasikan kepada remaja agar bangsa Indonesia punya generasi yang lebih cerdas dan berpendidiikan hingga mampu bersaing dengan pihak luar.
Seminar yang diikuti lebih dari 500 orang yang banyak diikuti para remaja, juga menampilkan pembicara Dr. Sudibyo Alimoeso, Deputi Keluarga Sejahtera dan Pembangunan Keluarga BKKBN dan pengamat kependudukan Jatie Pudjibudoyo.
Menurut Sudibyo, amanat Pasal 47 UU No 52 Tahun 2009 tentang Kependududukan menegaskan, Pemerintah dan Pemerinah Daerah menetapkan kebijakan pembangunan keluarga melalui pembinaan ketahanan dan kesejahteraan keluarga. Guna mewujudkan hal itu, BKKBN melakukan berbagai kegiatan dan tindakan seperti membuka akses informasi secara mudah, pelayanan tentang kehidupan berkuluarga dan pembuatan berbagai lembaga pelayanan guna mempermudah akses bagi para remaja.
Lebih berat
dibyo mengatakan, tantangan mewujudkan Generasi Berencana dimasa depan tentu lebih berat. Orang tua kini sibuk untuk memenuhi kebutuhan konsumtifnya yang cenderung hidup hedonis. Peredaran narkoba juga kian marak dimana-mana desa dan perkotaan mudah ditemuai. Film purno mudah diakses dimana-mana, banyak orang tak lagi peduli dengan lingkungan sekitar sehingga menjadikan pergaulan bebas atau banyak orang hamil diluar prosedurnya. Mestinya nikah dulu baru hamil, bukan hamil dulu baru nikah," katanya.
Sudibyo juga mengingatkan akan pentingnya membuat keluarga sejahtera lewat penggalangan remaja untuk tidak melakukan pernikahan usia muda dan menjalankan hubungan seks pra nikah.
"Jika remaja rusak, yang timbul kenakalan remaja, remaja banyak melanggar etika sosial, ego pribadi sampai akhirnya banyak remaja kehilangan pegangan dan sulit membedakan prilaku baik dan buruk. Itulah yang perlu dicegah,"katanya.
Ditempat terpisah, Kepala BKKBN Dr. Fasli Jalal mengatakan, jika bangsa Indonesia mampu mewujudkan keluarga sejahtera dan mengatur tingkat kelahirannya, Indonesia akan menjadi 5 negara besar sebagai pemain ekonomi dunia karena jumlah PDB-nya akan terus naik sejalan menurunnnya tingkat ketergantungan keluarga.
Saat ini dari 50 orang bekerja masih punya tanggungan 100 orang. Sejalan terwujudnya pembanguna keluarga, setiap orang sudah punya pendapatan dan tidak perlu tergantungan dengan orang lain, sehingga penghasilan produk domestik bruto nasional akan melonjak tajam, seperti yang dialami negara maju lainnya, kata Fasli. (theo dan sudarmi alwi)
Tren kenaikan itu dapat dilihat sejak lima tahun terakhir 2007 - 2012 terhadap survey Demografi dan Kesehatan Indonesia, dimana prilaku seksual pra nikah pada tingkat remaja menjadi 8,3 persen dari total remaja yang disurvey, kata Dr. Agustin Kusumayati, dosen fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, pada seminar memperingati hari keluarga nasional ke 21 di Surabaya, Kamis.
Seminar yang mengambil tema, Remaja Berkualitas Indonesia Sejahtera itu, Agustin mengatakan, pengaruh kenaikannya antara lain dari media masa, cetak, TV dan radio, web on line dan jejaring sosial lainnya serta pengaruh teman sebaya yang pernah melakukan hubungan seks pra nikah.
Media yang terbuka, kurangnya sensor film-film purno yang mudah diunggah lewat media on line, punya pengaruh cukup tinggi lebih dari 60 persen, dan 18 - 21 prsenya dari pengaruh teman sebaya yang sudah melakukannya, sisanya adanya teman intim/pacaran sebellum usia dewasa.
Agustin mengingatkan, jika pemerintah tidak dapat mewujudkan pembangunan keluarga sejahtera, kerusakan ditingkat remaja akan kian parah, bukan hanya meningkatnya hubungan seks pra nikah pada usia remaja, tetapi juga penggunaan narkoba dan pemutaran filem purno akan kian marak, mengingat selama ini pelaku terbesar hubungan pra nikah lulusan SD dan tamaan SMP.
Oleh karenanya, pengaturan keluarga sejahtera seperti pengaturan jumlah anak dan penundaan kawin usia muda harus terus disosialisasikan kepada remaja agar bangsa Indonesia punya generasi yang lebih cerdas dan berpendidiikan hingga mampu bersaing dengan pihak luar.
Seminar yang diikuti lebih dari 500 orang yang banyak diikuti para remaja, juga menampilkan pembicara Dr. Sudibyo Alimoeso, Deputi Keluarga Sejahtera dan Pembangunan Keluarga BKKBN dan pengamat kependudukan Jatie Pudjibudoyo.
Menurut Sudibyo, amanat Pasal 47 UU No 52 Tahun 2009 tentang Kependududukan menegaskan, Pemerintah dan Pemerinah Daerah menetapkan kebijakan pembangunan keluarga melalui pembinaan ketahanan dan kesejahteraan keluarga. Guna mewujudkan hal itu, BKKBN melakukan berbagai kegiatan dan tindakan seperti membuka akses informasi secara mudah, pelayanan tentang kehidupan berkuluarga dan pembuatan berbagai lembaga pelayanan guna mempermudah akses bagi para remaja.
Lebih berat
dibyo mengatakan, tantangan mewujudkan Generasi Berencana dimasa depan tentu lebih berat. Orang tua kini sibuk untuk memenuhi kebutuhan konsumtifnya yang cenderung hidup hedonis. Peredaran narkoba juga kian marak dimana-mana desa dan perkotaan mudah ditemuai. Film purno mudah diakses dimana-mana, banyak orang tak lagi peduli dengan lingkungan sekitar sehingga menjadikan pergaulan bebas atau banyak orang hamil diluar prosedurnya. Mestinya nikah dulu baru hamil, bukan hamil dulu baru nikah," katanya.
Sudibyo juga mengingatkan akan pentingnya membuat keluarga sejahtera lewat penggalangan remaja untuk tidak melakukan pernikahan usia muda dan menjalankan hubungan seks pra nikah.
"Jika remaja rusak, yang timbul kenakalan remaja, remaja banyak melanggar etika sosial, ego pribadi sampai akhirnya banyak remaja kehilangan pegangan dan sulit membedakan prilaku baik dan buruk. Itulah yang perlu dicegah,"katanya.
Ditempat terpisah, Kepala BKKBN Dr. Fasli Jalal mengatakan, jika bangsa Indonesia mampu mewujudkan keluarga sejahtera dan mengatur tingkat kelahirannya, Indonesia akan menjadi 5 negara besar sebagai pemain ekonomi dunia karena jumlah PDB-nya akan terus naik sejalan menurunnnya tingkat ketergantungan keluarga.
Saat ini dari 50 orang bekerja masih punya tanggungan 100 orang. Sejalan terwujudnya pembanguna keluarga, setiap orang sudah punya pendapatan dan tidak perlu tergantungan dengan orang lain, sehingga penghasilan produk domestik bruto nasional akan melonjak tajam, seperti yang dialami negara maju lainnya, kata Fasli. (theo dan sudarmi alwi)




Post a Comment