EMC'2 : Tahun 2020 Jagat Digital Indonesia Akan Meningkat 8 Kali Lipat
Jakarta, Laras Post Online - EMC Corporation baru saja mengumumkan hasil penelitian mengenai Jagat Digital, satu-satunya penelitian untuk menaksir dan memperkirakan jumah data yang dibuat setiap tahunnya khusus untuk wilayah Indonesia untuk pertama kalinya.
Penelitan yang mengambil judul “Berbagai Peluang di Jagat Digital: Data Lengkap dan Peningkatan Nilai dari Internet of Things,” tersebut dianalisa dan dilakukan oleh IDC, yang mengungkapkan bagaimana kemunculan teknologi nirkabel, produk smart, dan software-defined businessess berperan penting dalam peningkatan volume data di dunia.
Adi Rusli, Managing Director, EMC Indonesia dalam presentasinya mengatakan, "Karena ini merupakan bagian dari Internet of Things, jagat digital meningkat dua kali lipat setiap dua tahun dan akan bertambah menjadi delapan kali lipat dari tahun 2013 sampai 2020. Diperkirakan, pertumbuhan data saat itu akan mencapai 656EB di tahun 2020 dari 84EB di tahun 2014,".
Internet of Things terdiri dari miliaran objek setiap harinya yang dilengkapi dengan tanda pengenal yang unik dan kemampuan untuk mencatat, melapor dan menerima data secara otomatis. Sebagai contoh adalah chip yang dikalungkan di binatang peliharaan, sensor di sepatu, atau sebuah kartu yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan seperti untuk membayar pajak, air, ataupun listrik.
Jika Jagat Digital Indonesia digambarkan dengan memori dalam tumpukan tablet, maka di tahun 2013 panjangnya akan mencapai 255 kali ketinggian Puncak Jaya Irian. Di tahun 2020, akan ada 2.983 tumpukan ketinggian Puncak Jaya Irian.
“Dengan besarnya potensinya pertumbuhan jagat digital, dunia bisnis akan memiliki peluang lebih besar untuk menganalisa aliran data baru dan mendapatkan nilai lebih dari data yang telah mereka miliki.
Adi menambahkan, tantangan dari ledakan data yang sangat signifikan ini diantaranya adalah sumber daya dan infrastruktur. Dibutuhkan solusi bagaimana menyimpan dan memanfaatkan data yang begitu banyak dan menganalisa data tersebut agar dapat merespon kebutuhan kostumer lebih cepat.
Tantangan lain yang menarik untuk diamati adalah, dari 4,4 zetabyte data, ada 57% data yang tidak perlu diproteksi dan 43% perlu dilindungi karena berhubungan dengan data perusahaan. Namun pada kenyataannya, 53% dari data yang perlu di protek, ternyata 43% data belum terproteksi. Menurut Adi, temuan tersebut merupakan tantangan untuk kalagan TI indonesia. (Maslim)




Post a Comment