Header Ads


Dukungan Parpol Koalisi Terhadap Capres Belum Maksimal

Ilustrasi maskot Pemilu 2014.
Jakarta, Laras Post Online – Dukungan partai politik terhadap pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden (Capres-Cawapres) hingga menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 dilaksanakan perannya kurang maksimal sebagai mesin kampanye. Padahal Capres dan Cawapres untuk meraih suara terbanyak dalam pemungutan suara dalam Pilpres, harus menyambangi berbagai daerah.
Profesor riset P2P LIPI, Indria Samego, dalam diskusi pada Rabu (18/6) di Habibie Center Jakarta menyatakan, kurangnya peran parpol dalam mengkampanyekan Capres dan Cawapres, disebabkan parpol kehabisan energi setelah menghadapi Pemilu Legislatif (Pileg) 2014.
Menurutnya, daripada parpol, yang paling efektif sebagai mesin politik untuk meraih suara terbanyak yakni kepala daerah, seperti bupati dan walikota. Hal ini disebabkan oleh budaya politik masyarakat Indonesia yang secara umum masih terpengaruh pada ketokohan atau patron. Sehingga, masyarakat cenderung mengikuti amanat yang diberikan tokoh yang diikutinya seperti kiai dan kepala daerah.
Indria melanjutkan, kurangnya parpol terutama parpol koalisi, untuk melakukan kampanye, juga disebabkan Capres dan Cawapres bukan merupakan tokoh parpol masing-masing. Dengan demikian, tidak ada jaminan jika pasangan calon yang diusung menang, parpol pendukung mendapat jatah kursi di pemerintahan.
Ia menyatakan, dalam berkampanye hendaknya tidak terpaku pada budaya patron, sebab Pilpres merupakan Pemilu langsung, sehingga, masyarakat yang memenuhi syarat sebagai pemilih yang menentukan siapa pasangan calon yang menjadi pilihannya.
Indria menyebut penting bagi setiap pasangan calon untuk menyambangi berbagai daerah di penjuru nusantara untuk berkampanye. Sebab, di Indonesia belum ada pola kampanye yang dapat dijadikan acuan yaitu daerah mana yang perlu dikunjungi. Jika di negara maju seperti Amerika Serikat (AS), para capres wajib bertandang ke berbagai negara bagian yang tertua. Sebab, di negara bagian itu yang menjadi cikal bakal terbentuknya AS.
Mengingat pola tersebut tidak ada maka Indria berpendapat kampanye yang dilakukan masing-masing pasangan calon beserta timnya harus mengunjungi bermacam wilayah tidak hanya pulau Jawa. Dengan begitu para calon tidak dicap Jawa sentris. Sekalipun TV berperan sebagai media kampanye tapi Indria melihat masyarakat Indonesia lebih senang jika bertemu langsung dengan para calon. “Masyarakat mau mengenal calon secara langsung,” tuturnya.
Waktu yang disediakan untuk berkampanye cukup singkat yaitu sampai 5 Juli 2014. Oleh karenanya Indria menilai kegiatan utama yang dilakukan pasangan calon dan timnya saat ini adalah berkampanye. Apalagi diprediksi ada 40 persen undecided atau swing voters yaitu pemilih yang belum menentukan pilihannya kepada salah satu pasangan. Mengingat jumlahnya sangat besar maka berpengaruh dalam menentukan siapa pasangan calon yang menjadi pemenang. (tim)

No comments

Terimakasih, apapun komentar anda sangat kami hargai

Powered by Blogger.