Mushollah Al Ikhlas Desa Peganden Gelar Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Mushollah Al Ikhlas RT 01 RW  08, Desa Peganden Kabupaten Manyar Gresik, Rabu (25/9/2024). 

Gresik, Laraspost.online - Ajaran dan suri tauladan Nabi Muhammad SAW tetap relevan dan krusial dalam membangun persatuan di tengah keberagaman Indonesia. 

Perayaan Maulid Nabi yang serentak dilakukan di banyak daerah di Indonesia bukanlah sekadar hal yang rutin, namun sebagai wujud kecintaan umat Islam dalam mengingat sosok Nabi Muhammad SAW.

Kali ini perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW digelar di Mushollah Al Ikhlas RT 01 RW  08, Desa Peganden Kabupaten Manyar Gresik, Rabu (25/9/2024) malam.

Pada kesempatan itu Drs KH Zakaria Al Ansori selaku penceramah menjelaskan, bahwa perayaan Maulid Nabi di Indonesia memiliki potensi besar untuk memperkuat kohesi sosial.

“Perayaan Maulid Nabi Muhammad S.A.W. ini memang adalah suatu tradisi yang ada di Indonesia, yang dilakukan sejak dulu oleh nenek-nenek moyang kita. Namun, saya perlu memperingatkan adanya risiko penyalahgunaan momentum Maulid Nabi ini," ucapnya.

Dirinya menyayangkan jika perayaan Maulid Nabi ini, yang tujuan awalnya adalah untuk menjelaskan tentang sejarah, perilaku, dan akhlak Nabi, serta meningkatkan kecintaan umat Islam terhadap Nabi Muhammad.

Dalam konteks masyarakat Indonesia yang beragam,  penceramah Drs KH Zakaria Al Ansori menekankan pentingnya menerapkan ajaran Nabi tanpa terjebak dalam fanatisme berlebihan.

"Rasulullah sallallahu alaihi wasallam ketika hijrah ke Madinah, masyarakat di sana itu tidak tunggal, dalam artian beraneka ragam masyarakatnya. Ada yang Nasrani, ada Yahudi, ada yang Muslim, dan ada juga yang tidak punya agama,” ujar sang penceramah tersebut.

Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mengajarkan tentang keadilan, bagaimana supaya mereka bisa hidup berhukum, bagaimana supaya mereka tidak fanatic. “Bagaimana supaya mereka bisa menyatu di dalam membangun di sekitar lingkungan kita,” ucapnya lagi.

Mengenai prinsip keadilan, empati, dan toleransi yang menjadi inti dari dakwah Nabi Muhammad, Penceramah menegaskan, bahwa Rasulullah itu sangat melarang keras umatnya itu fanatik. Artinya sampai Rasulullah itu mengatakan bahwa bukanlah umatku kalau dia fanatik.

"Kita harus mengerti dengan ajaran agama lain, kita harus memaklumi budaya orang lain. Kita harus memaklumi tradisi orang lain, kita tidak bisa mengklaim bahwa ini salah, ini tidak benar, dan lain sebagainya, lalu mencapai mereka sebagai komunitas yang sesat," tegasnya.

Penceramah Drs. KH. Zakaria Al Anshori M.Ag menegaskan pentingnya  dakwah yang baik. "Dengan mengedepankan dialog, berdakwah dengan baik, maka orang lain akan mengerti. “Orang lain akan memahami agama kita, dan kita tidak harus mengatakan bahwa kamu harus begini,   ini salah,” tandas Drs. KH. Zakaria saat saat berdakwah di hadapan para jemaah. (Ahmad Mubin)

No comments

Terimakasih, apapun komentar anda sangat kami hargai

Powered by Blogger.