Header Ads


Kemendag Dukung Peningkatan Ekspor Sektor Jasa Digital

Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional, Arlinda
Jakarta, Laras Post – Kementerian Perdagangan berupaya mendorong sektor jasa, khususnya jasa digital, agar dapat berkontribusi bagi pertumbuhan ekspor nasional. Sebagai upaya dini, Kemendag telah menggelar diskusi kelompok terfokus (FGD) untuk meningkatkan sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha dengan bahasan utama mengenai potensi sektor jasa, terutama subsektor jasa digital, di Jakarta, Selasa (23/4/2019).

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kemendag Arlinda menjelaskan, jasa sebagai salah satu sektor yang dapat berkontribusi dalam peningkatan ekspor masih memerlukan perhatian lebih karena belum menjadi prioritas utama. 

“Padahal, sektor jasa tidak dapat lepas dari seluruh lini perdagangan, termasuk ekspor. Sektor jasa juga selalu dijadikan hal yang dibahas secara khusus dalam setiap perundingan internasional. Sektor jasa bahkan telah memberikan kontribusi utama untuk Malaysia, Thailand, dan Vietnam,” jelasnya.

Terkait hal tersebut, Direktur Kerja Sama Pengembangan Ekspor Kemendag Marolop Nainggolan juga mengungkapkan, pemerintah telah menentukan arah kebijakan pembangunan sektor perdagangan 2020—2024 dan akan mendorong sektor jasa agar dapat memberikan kontribusi terhadap kinerja ekspor, yaitu sektor jasa bernilai tambah tinggi yang didorong inovasi dan teknologi, termasuk juga yang berorientasi pada penerapan industri 4.0.

“Saat ini ekspor jasa terbesar adalah jasa perjalanan dan hal ini tentunya berkaitan dengan sektor pariwisata yang juga telah menjadi kontributor utama penerimaan devisa. Sedangkan untuk jasa digital, potensi kontribusi terhadap ekspor sebetulnya sangat besar namun kurang bisa teridentifikasi,” lanjut Marolop.

Penyebab hal tersebut, menurut Marolop, yaitu karena transaksi yang terjadi antara penyedia dan pembeli   jasa   dilakukan   secara   langsung.   Beberapa   jasa   yang   teridentifikasi   antara   lain pengembang gim, pemrogram situs web atau aplikasi, dan desain grafis. Namun, pelaku di bidang jasa tersebut sebagian besar juga tidak berbadan hukum sehingga aktivitas yang mereka lakukan tidak dapat dimonitor.

“Untuk itu, FGD ini menjadi kesempatan baik untuk menggali informasi dan masukan dari sisi pelaku  usaha  jasa  digital  agar  kinerja  mereka  dapat  berkontribusi  nyata  bagi  ekspor,”ujar Marolop.

Para pelaku usaha di bidang digital yang menghadiri FGD tersebut yaitu PrivyID, Indoesia in Your Hand (IIYH), dan Nusatiga. Mereka memaparkan beberapa kendala yang dihadapi pelaku usaha jasa digital, antara lain yaitu keterbatasan modal yang umumnya memerlukan investasi yang besar dan masalah hak paten yang saat ini belum dapat diberikan untuk produk-produk aplikasi dan program komputer. 

PrivyID sebagai penyedia jasa tanda tangan digital pertama dan terbesar di Indonesia menyampaikan bahwa teknologi yang ada di Indonesia dapat bersaing dengan negara lain. 

Jasa identitas   digital   sebagai   lembaga   certification   authorities   (CA)   disebut   memiliki   peluang berekspansi ke pasar Amerika dan Australia karena aturan yang lebih terbuka di negara tersebut. Sementara untuk berekspansi ke Korea dan Eropa, dibutuhkan investasi yang lebih besar karena perturan  yang  berlaku  di  negara  tersebut  mewajibkan  adanya  infrastruktur  di  negara  tujuan. Untuk  itu,  PrivyID  menyampaikan  akan  segera  melakukan  penetrasi  ke  pasar  Australia  dan didukung penuh oleh Kemendag.

“Kami akan mengawal penetrasi ekspor jasa ke Australia ini dan diharapkan dapat dilakukan peluncuran resmi ekspor jasa pada TEI di bulan Oktober 2019 mendatang,” ungkap Marolop.

Sementara itu, IIYH yang menjadi salah satu narasumber menyampaikan, saat ini perusahaan mereka  telah  mempunyai  tiga  perwakilan,  yaitu  di  Eropa,  Amerika,  dan  Australia.  IIYH  aktif bergerak di bidang ekspor dan berharap dukungan dari pemerintah terhadap upaya IIYH yang akan berkolaborasi  dengan  calon mitra di luar negeri,  maupun melalui kegiatan pameran dan misi dagang.

Pada FGD tersebut juga disampaikan mengenai kebutuhan akan basis data yang valid di bidang jasa karena saat ini belum ada satu situs web yang terpusat menghimpun informasi pelaku jasa di Indonesia, terutama untuk kepentingan promosi ekspor.

“Adanya  suatu  situs  web  khusus  memungkinkan  seluruh  pelaku  usaha  jasa  dapat  terdaftar sehingga memudahkan calon buyer menemukan penyedia jasa potensial dari Indonesia,” pungkas Marolop.

Kemendag telah menyelenggarakan beberapa kali pertemuan seperti FGD ini pada tahun lalu. Kali ini, pertemuan sudah lebih mengerucut pada subsektor jasa digital yang berpotensi untuk lebih dikembangkan ekspornya. Ini juga sejalan dengan fokus pemerintah saat ini dalam mengembangkan sektor-sektor yang dapat berkembang pesat di era industri 4.0

Sekilas Mengenai Ekspor Jasa Indonesia

Menurut data Bank Indonesia, total ekspor jasa Indonesia pada tahun 2017 tercatat sebesar USD 25 miliar dan total impor jasa Indonesia pada tahun yang sama tercatat sebesar USD 32,5 miliar. Sektor jasa penopang ekspor Indonesia adalah jasa travel, jasa konstruksi, dan jasa bisnis lainnya. Negara tujuan ekspor jasa utama Indonesia antara lain Jepang, Australia, Amerika Serikat, Singapura, Malaysia, dan Belanda.

Pertumbuhan sektor jasa dalam perekonomian Indonesia mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terkahir. Pada 2017, sektor jasa berkontribusi pada produk domestik bruto (PDB) sebesar 43,63 persen dan mengalami pertumbuhan tertinggi selama 7 tahun terakhir dibandingkan dengan sektor pertanian dan manufaktur. (her, sg, wan)

No comments

Terimakasih, apapun komentar anda sangat kami hargai

Powered by Blogger.