Witjaksono. S.sos.MM: Menjadi ENTREPRENEUR, Berani Merubah Mindset Sejak Dini
Seminar Ekonomi Kerakyatan TDA TKW Indonesia di Hongkong
![]() |
| Pakar Ekonomi Witjaksono. S.sos.MM sebagi narasumber saat memberikan pandangan tentang "ENTREPRENEUR", pada Seminar Ekonomi Kerakyatan di Gedung BNI 1946 kawasan Central - Hongkong, Minggu (24/4/16). |
Hongkong, Laras Post - Komunitas Tangan Di Atas (TDA) Tenaga Kerja Wanita (TKW) Indonesia di Hongkong menyelenggarakan Seminar Ekonomi Kerakyatan bertemakan "ENTREPRENEUR", di Gedung BNI 1946 kawasan Central - Hongkong, Minggu (24/4/16).
Pantauaan tim Liputan Khusus Laras Post pada acara tersebut, sebelum acara seminar dimulai Ketua TDA TKW di Hongkong, Mita menyerahkan kepada wakilnya Iminur Kholifah -yang juga pernah menjabat sebagai Ketua TDA TKW di Hongkong- untuk memberikan sambutan.
Imunir Kholifah selaku Wakil Ketua TDA Hongkong ketika memberikan sambutan mengatakan, Tangan Di Atas (TDA) memiliki arti bahwa para Tenaga Kerja Wanita yang bekerja di Hongkong tidak selamanya harus tangan di bawah.
Lebih jauh Imunir menyebutkan, para TKW Hongkong sudah bekerja sudah hampir sepuluh tahun tentunya ingin pulang kampung dengan membawa modal hasil kerja untuk melanjutkan usaha kecil di kampung halaman masing-masing.
“Untuk itu pada tahun 2013 kami mendirikan komunitas TDA di Hongkong sebagai cabang TDA Pusat Jakarta yang intinya untuk belajar membuka usaha kecil ketika kami telah pulang kampung,” terang Iminur Kholifah yang baru menyelesaikan sarjana ekonomi di University Hongkong.
Adapun Sekretariat TDA Pusat yang diketuai Ferdian berada di Jakarta tepatnya di gedung Smesco lantai XVII Jl. Gatot Subroto Jakarta Selatan.
Sementara itu sebagai narasumber pada acara seminar itu seorang pengusaha muda yang juga pakar ekonomi Witjaksono. S.sos.MM. yang sengaja diundang dari Jakarta oleh komunitas TDA Hongkong.
![]() |
| Seminar Ekonomi Kerakyatan dihadiri puluhan TKW Hongkong asal Indonesia. |
"Untuk merubah Mindset menjadi Entrepreneur, bahwa merubah mindset adalah merubah polapikir dan perilaku yang sudah biasa dan tertanam sejak lama didalam diri kita. Memang tak gampang merubah mindset terlebih mindset tersebut sudah menjadi rutinitas yang mengarah ke Comfort Zone,” ujar Witjaksono saat menjelaskan tentang Entrepreneur.
Disebutkan Witjaksono, bahwa merubah mindset menjadi seorang entrepreneur tidak semudah membalikkan telapak tangan, melainkan butuh keberanian. Perilaku perubahan dari yang terkecil dulu hingga keberanian menjadi pengusaha atau pedagang berangsur tumbuh dan naik.
Misalkan level pelajar atau anak muda yang kebiasaannya menerima donasi dari orangtuanya untuk kebutuhan sehari-hari. Merubah perilaku kosumsi atas uang tersebut digunakan untuk mulai berbisnis atau berdagang berarti Mindset, awalnya dari comfort zone yang hanya menerima donasi dari orangtua beralih menjadi menjadi Mindset Pengusaha dan dia mengambil segala resiko atas uangnya tersebut untuk berdagang.
Witjaksono juga mengatakan, hal seperti itu cukup krusial tatkala mindset seorang pengusaha mulai tertanam sejak usia muda, sehingga dalam proses pendewasaan atas dirinya diiringi atas potensi dan existensi atas kinerja yang diusahakan.
Contoh hal lain adalah seorang pegawai yang hanya biasa menerima upah setiap bulan secara pasti, tatkala akan hijrah menjadi seorang pengusaha, maka dia harus berani keluar dari comfort zone sehingga mengambil resiko atas ketidak pastian pendapatan sejak menjadi pengusaha.
Witjaksono menambahkan, tidak banyak orang yang berani mengambil resiko perubahan seperti itu. Namun dapat dipastikan bahwa mental dan keberanian adalah modal dasar atas kesuksesan seorang pengusaha.
“Bagaimana menyiapkan diri menjadi ENTREPRENEUR. Persiapan menjadi seorang pengusaha memang harus dimulai sejak adanya keyakinan dan keberanian diri untuk mulai menjadi pengusaha,” ujar Witjaksono ketika mengakhiri pengarahannya sebagai narasumber seminar TDA TKW Indonesia di Hongkong. (*AS*)





Post a Comment