Pramoedya Ananta Toer

Peter A. Rohi. AP
Tahun 1999.ketika saya dikabarkan hilang dalam kerusuhan di Timor Leste, seorang mengaku redaktur dari sebuah media datang ke rumah saya meminjam foto saya. Istri saya memberi foto saya bersama Pram yang lain. Andai pesan FB ini terbaca, oleh ybs tolong dikembalikan sesuai janji ketika meminjam.
Laras Post - Beberapa kali saya menemui Pram di rumahnya di Bojong Gede ngobrol soal sastra dunia. Luar biasa. Sejumlah 200 bukunya diterjemahkan dalam bahasa asing, mendapat penghargaan dari Magsaysay Award, dan dua kali nominasi Nobel. 

Tahun 2008 atas kebaikan hati sahabat Jalil Latuconsina saya bisa mengobrak-ngobrak hutan dan gunung di Pulau Buru melacak tulisan Pram dalam bukunya Perawan dalam Cengkeraman Militer yg mengisahkan perempuan2 yang diangkut pada zaman Jepang untuk dijadikan perempuan penghibur. Walau semua yang ditulis Pram sudah meninggal, saya masih menemukan beberapa perempuan lain yang bernasib sama. 

Dari pelacakan buku Pram ini saya menilai Pram bukan saja sastrawan, tetapi dia juga seorang humanis sejati. Hilanglah semua keraguan saya pada Pram sebagaimana yg selalu diisukan. Dia seorang Soekarnois, nasionalis banget dan bukan komunis, bisa terbaca dari bukunya dan juga seperti yg dikisahkan pada saya. Universitas Michigan memberinya gelar Doctor HC atas karya sastranya selama masa pembuangannya di Pulau Buru. 

Ketika saya akan mengubah judul buku saya Kako Lami Angalai, yg juga dia senangi dia justru bilang judul itu menambah khasanah istilah di negeri ini. Satu hal hutang saya pada Pram;adalah dia meminta buku catatan Pigafetta yg ikut bersama Magelhaes keliling dunia, belum sempat saya berikan, Bulan depan 10 tahun meninggalnya :Pram. Jejaknya jelas di negeri ini. ***

No comments

Terimakasih, apapun komentar anda sangat kami hargai

Powered by Blogger.