Soekarno: Jangan Jadi Budak Bangsa-Bangsa
Setelah Soekarno mengusir
kapitalis Amerika yang ingin menguasai ekonomi negeri ini, Soeharto malah
mempersilakan mereka masuk dan memberikan semua yang mereka minta. Itulah
sebabnya kita terlebih dulu membuat UU no. 1 Tahun 1967 yaitu UU Penanaman
Modal Asing, ketimbang menghasilkan UU Penanaman Modal Dalam Negeri. Soekarno
memang bilang: Go To Hell With Your Aids. Soekarno tidak memberikan secuil apa
pun, bahkan tidak sebatang pohon pun tumbang bagi kapitalis asing. Biarkan
kekayaan itu tertanam di perut Ibu Pertiwi sampai anak-anaknya sendiri mampu
menggalinya. Untuk mewujudkan mimpinya, ia mengirimkan 5.000 pemuda belajar ke luar
negeri.
Bagi Kapitalisme Barat jangan
sampai mimpi Soekarno itu menjadi kenyataan, Kalau itu yang terjadi kapitalis
barat niscaya tidak kebagian apa-apa. Maka sebelum itu terjadi, Soekarno harus
jatuh. Kejatuhan Soekarno itu disambut girang Presiden AS Richard M. Nixon:
“upeti besar dari Asia .”
Buru-buru manusia terkaya dunia
ketika itu CEO Korperasi Multi Nasional Rockefeller mendikte persyaratan
investasi besar masuk ke Indonesia, yang kemudian dijabarkan sebagai
Undang-undang no.1 Tahun 1967, yaitu Undang- undang Penanaman Modal Asing.
Soekarno benar- benar sudah
dicopot dari kekuasaannya. Semua negara kapitalis berpesta pora. Soeharto
dianggap penyelamat, karena kekayaan alam Indonesia tidak jatuh ke
pundi-pundi Blok Timur.
Segera The Time Life Corporation
mensponsori pertemuan di Jenewa, Swiss. Selain mendikte persyatratan untuk
investasi yang menyangkut infrastruktur dan administrasi, kekayaan Indonesia
dikapling-kapling. Papua dibagi dua. Freeport
memperoleh dua gunung yang kaya mineral, emas dan tembaga, sisanya untuk sebuah
konsorsium Eropa menguras nikel. Alcao memonopoli bauksit. Sementara hutan
Sumatera, Kalimantan , dan Papua dikapling
untuk Jepang, Amerika, dan Prancis.
Semua kendali ekonomi dan
keuangan berada di bawah kendali Inter Government Group on Indonesia (IGGI)
yang dipegang Belanda, dengan dana yang dikucurkan oleh International Moneter
Found (IMF).
Konyolnya, tim yang dikirim
Soeharto menemui sang majikan barui, IGGI, yang terdiri dari Adam Malik, Sri
Sultan Hamengku Buwono IX, dan Soemitro Djojohadikoesoemo cuma bisa ho-oh ho-oh
saja menghadapi para pemilik perusahaan raksasa selama pertemuan tiga hari di
Swiss yang membahas habis nasib bangsa ini. Ada General Motors, Imperial
Chemical Industrie, British Leyland, British American Tobacco, American
Express, Siemens, Goodyear, The International Paper Coorporation, dan United
States Steel.
Peristiwa ini menandai kembalinya
kapitalisme menjajah negeri ini sebagai titik balik dari merdeka dan berdaulat
menjadi New Liberalism, di mana hidup budak besar dan budak kecil. Budak besar
yang menyerahkan semua kekayaan alam negeri ini dan memperlakukan semena-mena
budak kecil untuk menunjukkan kesetiaan mereka pada sang majikan. Tanah rakyat
tak segan diambil paksa, kalau ada kepentingan kapitalis di situ. Rakyat hanya
diberi janji.
Hak politik bangsa ini makin
digerogoti dengan disusupinya kepentingan kaum kapitalis dalam semua
peraturan-peraturan negara dan daerah, justru makin menjadi pada era reformasi
setelah UUD 1945 diamandemen.
Janji kecipratan tidak terbukti,
sebaliknya direkrutlah para penganggur non skill untuk menjadi TKI / TKW di
laur negeri, sementara yang terpelajar lebih suka menjadi TKI/ TKW di dalam
negeri, yaitu bekerja pada perusahaan asing yang berinvestasi di dalam negeri.
Dalam prakteknya baik di dalam negeri, mau pun di luar negeri sama-sama
berstatus budak karena mereka tidak memiliki hak apa pun juga.
Kebangkitan Nasional
Menyambut Hari Kebangkitan
Nasional 20 Mei 2015 ini, walau Bung Karno sudah tiada, tapi jauh-jauh hari dia
sudah mengingatkan bangsa ini agar tidak bertindak sebagai apa yang dikatakan
Professor P. J. Veth: Dari zaman purbakala sampai sekarang, dari pada ribuan
tahun , Indonesia senantiasa menjadi negri jajahan: mula-mula jajahan Hindu,
kemudian jajahan Belanda. Tapi anak pribumi sendiri tidak pernah kuasa. (Di
Bawah Bendera Revolusi, hal. 257)
Bung Karno lalu mengutip sang
pencerah Asia , Swami Vivekananda: Berhentilah
menangis. Sekarang saatnya kita bangkit dari tidur yang panjang, merebut kembali
hak-hak kita.
Dan begitu pula hari ini,
menjelang bulan Soekarno ini kita berharap akan datang suatu kebangkitan baru,
kesadaran akan harga diri kita sebagai bangsa untuk merebut kembali hak kita
sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat agar kita tidak lagi menjadi budak
bangsa-bangsa! (Penulis adalah Direktur Soekarno Institute, Surabaya)




dasar goblok zaman rezim soeharto dan zaman skrg zokowi juga lebih goblog dan tolol
ReplyDelete