Seharusnya Pemerintah Tak Naikan BM Impor Bahan Baku Baja Jelang Pilpres
![]() |
| Ilustrasi |
Jakarta, Laras Post Online - Juni 2014 Pemerintah sebaiknya tidak menaikan Bea Masuk (BM) impor bahan baku rowmaterial baja ringan (galvanium) jelang Pilihan Presiden ini karena akan meningkatkan harga di pasar nasional dan dan bersifat kontra produktif.
Tak baik membuat kebijakan meningkatkan BM impor bahan baku baja ringan itu, situasinya lagi mau Pilpres, kata Ketua Asosiasi Produsen Baja Ringan, Beny Lau di Jakarta, Jumat.
Kenaikan itu selain kontra produktif, akan membuat sulit bagi pembangunan nasional utamanya dalam sektor perumahan dan property.
Dengan Kenaikan harga dipasar tersebut, bukan hanya Asosiasi Produksen Baja yang keberatan, tetapi sebagian besar rakyat akan menjerit adanya kenaikan dan kelangkaan baja ringan nanti, katanya.
Pernyataan itu disampaikan terkait adanya usulan dari pihak tertentu untuk menaikkan BM bahan baku baja ringan ke Departemen Perindustrian dan Perdagangan yang mendorong Departemen Keuangan untuk segera membahas usulan tersebut.
Harga baja ringan tanpa ada kenaikan BM impor bahan baku dipastikan akan naik karena tergerus inflasi, menurunnya pendapatan dan melemahnya nilai tukar rupiah. Program perumahan murah dari pemerintah akan terhambat jika pemerintah melakukan proteksi atau safeguard, karena harga baja ringan pasti akan melambung naik.
Beny Lau, yang didampingi pengurus lainnya, Suwito Marsam, memaparkan data tentang kekurangan produsen lokal untuk memasok kebutuhan permintaan baja ringan dan terus kian meningkatnya impor baja atau rowmaterial bahan baku baja tersebut.
Dari sumber bps di tahun 2012 dan 2013 masing – masing pertahun terjadi import material HS 72106111000 sebesar 249.742.890 dan 321.163.569 (kg) di mana trend nya terus meningkat sebesar 22 persen, sedangkan kapasitas produksi nasional di mana terdapat tiga produsen yaitu Bluesope, Sarana central bajatama dan Sunrise steel hanya sebesar 305.000 MT.
Sementara total kebutuhan nasional sebesar 626.163 ( produksi nasional + import = kebutuhan nasional ) dari angka tersebut dapat di lihat bahwa produsen nasional tidak dapat memenuhi kebutuhan baja ringan nasional.
Dikatakan, impor material baja ringan pertahunnya naik ra-rata sebesar 22 persen pertahunnya hal itu seiring pertumbuhan ekonomi serta pembangunan indonesia dimana sebagian besar konsumsi material HS 7210611100 di gunakan untuk bahan bangunan khususnya perumahan, gedung pemerintahan dan sekolah guna mengurangi pembalakan liar.
Sebagai catatan tiga perusahaan besar nasional yang menguasai pangsa pasar di tas 50 persen dari kebutuhan nasional itu adalah, Bluescope, Sarana Central dan Sunrise Steel. Kapasitas produknya hanya mencapai 305,1 sementara kebutuhan lokalnya mencapai 2 kali lipatnya.
Produk lokal baja.
Bluescope Indonesia, 161.000 ton,
Sunrise Steel 72.000 ton
Sarana Central 72000 to
Totalnya 305.000 ton
dari berbagai sumber
Oleh karenanya, kata Beny, jika pemerintah meningkatkan BM impor, otomatis harga akan naik dan sudah barang tentu rencana pembangunan 3 juta rumah RS yang atap dan konstruksinya dari baja akan terhambat. Bahkan banyak pabrikan downstream yg akan memilih utk mengimport barang jadi ketimbang meproduksi di Indonesia sehingga akan menimbulkan pemutusan kerja secara masal.
Bukan itu saja, kenaikan BM impor itu nantinya yang menangguk untung hanya kelompok pengusaha tertentu saja. “Apakah kita mau membantu rakyat atau memprotek produsen lokal yang hanya tiga pihak itu,” katanya, dengan nada tanya.
Ia mengingatkan, Indonesia sudah menandatangani perjanjian WTO atau dan bahkan sebagai pemrakarsa adanya pasar Asean ( Asean free trade ) tahun 2015 yang mendorong semua produk barang BM menjadi 0 (nol) persen. Tetapi jika pemerintah tetap nekad, dengan dalih melindungi produsen lokal bukan hanya bertentangan dengan Asean Free trade itu tetapi juga akan meningkatkan lagi adanya ilegalloging.
Disebutkan, Keinginan mencegah langkah pemerintah tersebut didasari adanya usulan pemerintah Cq Departemen Perindustrian dan Perdagangan ke Departemen Keuangan untuk meningkkatkan BM terhadap produk tersebut, karena perlindungan kepada sektor industri baja nasional karena harga bahan baloi besi dan baja impor meningkat dari US$500 per ton menjadi US$800 per ton. Hal itu tidak akurat. Singkatnya, safe guard atau perlindungan produk lokal terhadap bahan baku baja lewat menaikkan BM impor produk tersebut kutang tepat. ***




Post a Comment