Pro-Kontra Soeharto Pahlawan Nasional
Oleh : Peter A. Rohi
![]() |
| Peter A. Rohi |
Sah-sah saja Golkar mengusulkan Soeharto jadi Pahlawan Nasional. Debat seru terjadi antara mantan anak buah Soeharto dan keluarga serta pengikut Soekarno. Hal ini bisa menimbulkan luka sejarah kalau dipaksakan oleh sebagian rakyat, sementara sebagian lainnya menolak.
Bagi saya, untuk menetapkan seseorang sebagai pahlawan nasional tidak otomatis seseorang itu jenderal bintang lima, atau mantan presiden.
Ada beberapa hal yang harus dipikirkan dengan matang, agar tidak menimbulkan pro-kontra kemudian hari. Sejarah memang memiliki metodologinya sendiri yang pada akhirnya menemukan kebenarannya. Karena itu status kepahlawanan seseorang tidak bisa dinilai apalagi ditentukan serta-merta oleh generasi yang terlibat emosional dengan sosok yang bersangkutan. Perlu suatu masa pengendapan yang panjang, perenungan dan analisa sehingga terdapat suatu keadilan dalam sejarah. Dengan demikian tidak terkesan, bahwa sejarah hanyalah milik sang pemenang.
Soekarno yang berjuang sejak masa muda, bahkan tulisan-tulisannya sudah menarik perhatian semasa ia belajar di HBS, Surabaya. Tahun 1915 ia pada usia 14 tahun ia sudah membuat tulisan tentang nasib bangsa ini dengan nama samaran Bima pada majalah Utusan Asia milik HOS Tjokroaminoto. Tidak ada orang Indonesia mana pun yang begitu gencar dan teguh cita-citanya seperti Soekarno remaja. Ia adalah sosok pejuang yang setelah menamatkan kuliah di THS dan memperoleh gelar insinyur menolak bekerja sama dengan penjajah, walau ditawari jabatan dan gaji besar.
Masuk keluar penjara dan dibuang tetapi dalam penjara dan di tempat pembuangan tetap berpikir untuk kemerdekaan Indonesia. Semua itu ditulis dan terdokumentasi dengan baik (baca Di bawah Bendera Revolusi). Tiga puluh tahun kemudian setelah ia menulis pikiran dan cita-citanya, yaitu pada tahun 1945 ia dan sahabatnya Moh. Hatta memproklamirkan kemerdekaan negeri ini. Keterlibatannya dengan Tragedi 30 September 1965 sama sekali tidak terbukti. Soekarno baru diakui sebagai Pahlawan Nasional 70 tahun setelah ia memerdekakan bangsa ini, atau 45 tahun setelah ia meninggal dunia.
Berbeda dengan Soeharto, ketika Tan Malaka, Soekarno, Hatta, dan Sjahrir berjuang melawan Belanda, Soeharto justru melamar menjadi tentara KNIL. Ia diterima dan diberi pangkat Kopral. Kopral Soeharto ditempatkan di asrama KNIL Rampal, Malang. Tugas pasukan KNIL di Rampal ini adalah menumpas gerakan-gerakan rakyat yang melawan penjajah. Ke mana saja Kopral Soeharto ditugaskan selama bertugas sebagai tentara KNIL perlu diteliti. Fase ini tidak terdokumentasi dengan baik, bahkan cenderung dikaburkan.
Apa yang terjadi pada September 1965 masih belum ada kepastian sejarah karena peradilan untuk mengetahui kebenaran sejarah tidak pernah diadakan. Dalam ketidak-pastian seperti itu, belumlah saatnya Soeharto ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Perlu sedikitnya 60 tahun lagi untuk menilai sosok ini agar penetapan statusnya sebagai pahlawan memperoleh keadilan dalam sejarah.
Ada yang berpendapat segala kekurangannya bisa dimaafkan, tetapi filsafat sejarah mengajarkan agar tidak melupakan kesalahan-kesalahan masa lampaunya, karena ia adalah bagian dari sejarah.
Tahun 1997 - 1998 penculikkan dan penghilangan aktivis, juga sebelumnya pembunuhan misterius tanpa pengadilan adalah catatan buruk pada masa pemerintahannya sebagai pelanggar HAM.
Seorang Pahlawan Nasional adalah sosok yang komplit, yang sejak awal sudah memiliki cita-cita kemerdekaan bagi bangsanya. Jenderal Soedirman adalah sosok seperti itu. Ketika Bung Karno dalam pembuangan di Bengkulu, ibunda Jenderal Soedirman menyempatkan diri mengunjungi Bung Karno. Ini membuktikan bahwa Soedirman bukanlah jenderal yang biasa-biasa saja, tapi sosok yang muncul dari keluarga yang memiliki sikap keberpihakkan pada Tanah Air dan bangsa.***




I think your blog is very nice to give to all lovers blog
ReplyDeletedewa poker