Header Ads


Pilar Rumahku Saksi Revolusi 1945

Oleh : Peter A. Rohi
Pojok rumah tempat berdirinya pilar yang dihantam mortir pada November 1945
Hampir sepuluh tahun saya kontrak rumah ini, akhirnya terbeli juga ketik dana pensiun KKO-AL cair 1982. Tidak besar, hanya 18 x 6 m terletak di dalam gang 40 meter dari pojok Jalan Mawar. Rumah tua ini saya beli dari Pak Sukandar, dulu tempat berkumpulnya laskar pemuda. Pada Revolusi November 1945 pilar sebelah timur tertembus peluru mortir dan pemilik rumah bernama Misdi, seorang sopir laskar tewas di lantai pojok rumah. 

Saat renovasi saya biarkan pojok itu tetap asli, tua dan selalu mengelupas. Di pojok itu ada sejarah, ada semangat Indonesia. Saya senang karena walau jauh dari jalan / banyak teman mau datang ke sini, semasa masih muda dan sebagian masih mahasiwa. Antara lain, Agil H. Ali, M. Djupri, Zed Abidien, Sutoyo, Hans Soetanto, Hans Louk, Toto Sonata, Dr Aribowo MA, Slamet Haryanto, Wisnu Subroto, Prof. Sam Abede Pareno, Prof. Hotman Siahaan, Prof. Peter Machmud, Dr Nurinwa, Prof. Henry Suprianto, Mas Willy (WS Rendra) dan Mbak Ida, Gerson Poyk, Aco Manafe, Bambang DH, Budiman Sudjatmiko, LW Soepomo, Tjuk Kasturi Sukiadi Dahlan Iskan, Anshyari Thayib (mantan Komnas HAM), Don Hasman, Rio Helmy, Hadiaman Santosa, Saif Bacham, Cak Kadar, pelukis Amang Rachman, Max Margono, Wiek Herwiyarmo, Romanus Wilopo, Hardjono WS alm. Retno Surabaya, Jack Adam, Panda Nababan, Bernardus Sendow, Ronald M Sihombing, dan masih banyak lagi sahabat2 yang menyenangkan. 

Saya selalu mengenang mereka di sini, saat saya pulang ke rumah. Sebagian besar saya lupa, tapi kalau kebetulan bertemu pasti mereka bertanya:

“Masih di Kampung Malang?” begitu pertanyaan yang selalu diucapkan. 

“Tentu saja” saya masih di Kampung Malang, rumah perjuangan yang bersejarah. Mmau pulang ke Pulau Sabu, tempat asal-usul leluhurku  hanyalah pikiran-pikiran kecil yang sekadar melintas. 

Anak-anak lebih suka di sini, tempat mereka lahir dan dibesarkan, dan tentu menjadi kampung halaman anak2 secara kultural sebagai “arek suroboyo”, sama seperti Bung Karno dan Bung Tomo. . 

Kini banyak sahabat muda masih sering datang, seperti Ady Setyawan, Syurqoni (Yuyun Zurqon), Lambertus Hurek, Rokim Dakas, para wartawan muda, aktivis, yang tentu berkaitan dengan Soekarno Institut, Lembaga Bantuan Buku, atau wawancara atau mahasiswa yang mau bikin skripsi atau disertasi. Ada pula yang sekadar silaturahmi dan tanya-tanya soal kesehatan. Saya diwawancarai beberapa wartawan asing juga di sini, termasuk Bung Tossy, orang Indonesia yang jadi wartawan Nederland dan kini bermukim di Belanda.

Saya mengenang mereka karena sebagian menjadi pribadi yang sangat (pernah) dikenal, atau memiliki posisi publik dan selebritis. 

Rumah kampung yang cuma disinggahi sebutir sejarah pun saya jaga bilur sejarahnya, apalagi sebuah rumah seperti di Jalan Mawar No. 10 tempat Bung Tomo membakar semangat perlawanan rakyat Surabaya pada Sekutu yang tak jauh dari rumah saya. ***

No comments

Terimakasih, apapun komentar anda sangat kami hargai

Powered by Blogger.