SAMIZDAT : Malam Penuh Kristal Kata2

Oleh :  Oleh : Peter A. Rohi

Laras Post - Kamis 2i September 1978, Lembaga Indonesia - Amerika (LIA) di Surabaya menyelenggarakan acara malam khusus untuk penyair wartawan membacakan puisi-puisi mereka. Empat wartawan diundang masing2 tiga dari Memorandum yaitu Agil H. Ali yang pernah menjadi Ketua PSSI, Ismu Handoko, kemudian menjadi anggota DPR RI, dan Toto Sonata. Dua teman yang terdahulu, Agil dan Ismu telah tiada. Agil adalah aktivis mahasiswa 66, seorang orator dan penulis. Ismu adalah mantan Ketua Dewan Mahasiswa Unair yang gagal menjadi dokter karena menolak program Normalisasi Kehidupan Kampuis (NKK) dari Menteri P&K Syarif Thayeb agar Mahasiswa Kembali ke Kampus. Ia selalu menentang rektor Prof. Dr Erie Soedewo yang juga seorang Mayor Jenderal mantan pejuang 10 November 1945. Toto Sonata adalah seniman tulen yang penyair dan penulis. Tetapi ia juga pernah ditahan bersama Agil dan Ismu dalam gerakan 1978. 

Saya sendiri dari Sinar Harapan yang sering dikejar-kejar karena sering mengungkap berbagai fakta perselingkuhan pejabat dan pengusaha yang merugikan masyarakat. Saya masuk dalam grup penyair Memorandum, selain karena kedekatan dengan wartawan2 aktivis di situ, juga karena nama Memorandum adalah pemberian saya untuk mengganti nama lama Mingguan Mahasiswa.

Malam itu ruang LIA tumpah sampai di hala   man, adalah hal istimewa karena jarang acara pembacaan puisi disesaki demikian banyak pengunjung.

Cendana di sekeliling wc.
Satu di antara lima puisi saya adalah kisah tentang puluhan kayu cendana yang tumbuh di sekitar wc kami, ketika saya masih kanak2. Dulu wc dibuat agak jauh dari rumah induk. Ranting2 tua dan daun cendana kering yang berjatuhan sering dibakar sehingga jalan menuju wc identik dengan aroma cendana. Aroma cendana ini kemudian tercium dalam minyak harum mahal seperti Avon dan Marylene yang menggunakan bahan dasar minyak cendana. Para artis dan perempuan kaya sering menebarkan aroma begitu dan selalu membangkitkan persepsi saya pada jalan menuju wc kami untuk membuang hajat. Saya menyusun kenangan itu dalam puisi. Puisi2 saya dipinjam alm. Bawong dari TV RI Surabaya, dan saya tidak memintanya kembali.
Dramawan Akhudiat memberi nama malam itu sebagai SAMIZDAT, atau malam yang penuh dengan kristal kata2. ***

No comments

Terimakasih, apapun komentar anda sangat kami hargai

Powered by Blogger.