Pertemuan Soeharto - PM. Tun Razak
Oleh : Peter A. Rohi
Laras Post - Kalau Anda pesiar ke Sabah atau Serawak, bertemu dengan orang-orang Jawa yang sudah beranak - cucu di sana dan berkewarga-negaraan Malaysia dan sudah naik ke Kelas Menengah, itu adalah hasil sebuah pertemuan antara Presiden Soeharto dan PM Malaysia Tun Abdul Razak. Pertemuan itu berlangsung di Wisma Foresta, Tretes 9 September 1974.
Koran SH menugaskan saya meliput pertemuan antar kepala pemerintahan dua negara itu. Karena pertemuan itu adalah untuk pertama kalinya setelah konfrontasi berakhir, saya pikir akan disinggung pula pengembalian tawanan perang. Ternyata tidak disinggung sama sekali. Nasib ratusan sahabat yang ikut Dwikora tidak jelas. Masalahnya perang kita pada saat itu adalah perang melawan Inggris, Australia, dan New Zeland. Malaysia belum punya tentara yang kuat. Inggris lebih banyak mengirimkan serdadu India dan Gurkha.
Sebagai wartawan saya liput pertemuan itu, tetapi sebagai veteran Dwikora saya kecewa.
Tun Razak, keturunan Bugis bukan orang baru bagi Menlu Adam Malik yang ketika itu hadir juga. Keduanya, tgl 8 Agustus 1967, bersama Menlu Thailand. Filiphina, dan Singapura menandatangani Deklarasi Bangkok, yaitu pembentukan ASEAN. Saat itu Razak masih sebagai Menlu Malaysia. Satu di antara hasil pertemuan Tretes RI - Malaysia itu adalah Indonesia membantu upaya Malaysia memperkuat ras Melayu di sana. Ras Melayu di sana bukan orang terpelajar, sehingga pemerintahan dan kelas menengah dikuasai ras China dan India. Angkatan pertama yang dikirim ke sana adalah dari Jawa Tengah sebagai imigran resmi negara, yang diterima Malaysia dengan acara kenegaraan pula.
Dua puluh tahun kemudian saya berjumpa dengan angkatan pertama ini yang diknal sebagai Angkatan Bogowonto, karena mereka dikirim dengan kapal Bogowonto milik Pelni. Mereka memang mengisi ruang-ruang kosong dalam kelas menengah terpelajar. Berbeda dengan imigran dari Jawa di Suriname yang tetap mempertahankan identitas Jawa, Angkatan Bogowono ini tampaknya ingin melupakan sama sekali. Apalagi pendatang dari Jawa kemudian adalah TKI / TKW, baik yang resmi dan dan yang gelap memberi kesan kurang baik bagi mereka. Beberapa di antara pendatang gelap terlibat kriminal yang membuat imigran Bogowonto merasa malu.
Kini anak cucu Bogowonto menduduki berbagai jabatan penting dalam pemerintahan Malaysia, juga dalam sektor lain seperti militer dan kepolisian atau swasta.***



Post a Comment