Penghargaan Kalpataru Ada Karena Laporan Saya.
Peter A. Rohi.
![]() |
| Penerima penghargaan Kalpataru 1980 di depan istana negara foto bersama Presiden Soeharto. John Rupidara putra Ridolf berdiri paling kanan |
Dalam buku Prof. Dr Alwi Dahlan, Manusia Komunikasi, Komunikasi Manusia (bisa diklik di Google), beliau menulis tentang awal pemberian Penghargaan Kalpataru kepada pribadi, kelompok atau daerah yang berjasa dalam pembangunan Lingkungan Hidup.
Pakar komunikasi yang menjadi Assisten Menteri Lingkungan Hidup Emil Salim menulis sebagai berikut: Akhirnya strategi komunikasi yang diusulkan staf dan dipakai untuk tahap awal dari rencana semula. .Kami makin yakin setelah Peter Rohi, wartawan Sinar Harapan mengirim laporannya tentang Ridolf Rupidara dari Pulau Kisar, bahwa ada mnasyarakat yang peduli akan lingkungan hidup. Pada mereka akan diberikan penghargaan yang namanya KALPATARU.
Kisah ini sebenarnya sdh ditulis juga dalam buku 75 tahun Emil Salim, bagaimana awal diadakannya penghargaan Kalpataru
Karena tulisan saya itu Presiden Soeharto melalui Prof. Alwi Dahlan meminta saya memberi penjelasan, bagaimana cara paling cepat mendatangkan Ridolf Rupidara ke Jakarta. Saya bilang jangan lewat Ambon, tapi lewat Dili. Sekwilda Timor Timur, Letkol Kalangi diperintahkan langsung menjemput Ridolf Rupidara dengan helikopter di Wonreli, Pulau Kisar. Sayang sekali orang tua itu telah meninggal dunia. Maka sebagai ganti beliau, anaknya John Rupidara yang menghadiri acara peringatan hari Lingkungan Hidup di Istana Negara, sekalian menerima penghargaan Kalpataru.
Tentu saja saya juga diundang mendampingi John Rupidara.
Kalau Anda menerima penghargaan Kalpataru ingatlah bahwa inspirasi penghargaan itu datangnya dari seorang tua yang hidup jauh di Pulau Kisar. Saya hanya kebetulan wartawan yang menemukan dia dan menulis kisahnya, bagaimana ketika masih berusia muda membawa benih2 acasia dari Australia dalam kotak rokok.
Ketika kami berlabuh di \sydney, teman-teman lebih suka pesiar ke tempat-tempat hiburan. Saya lebih suka duduk di taman sambil memandang pohon acasia yang rindang sepanjang jalan. Saya bermimpi klau jalan yang rindang itu sya pindahkan ke kampung saya, sepanjang jalan dari rumah ke pasar. Tentu sangat nyaman. Ia pun memungut benih-benih acasia yang jatuh di trotoar, menampungnya dalam bungkus rokok.
Hanya itulah oleh-oleh paling berharga yang dibawa pulang ke kampung. Sepulang ke kampung ia lalu menebarkan benih itu, mula=mula dari rumahnya menuju pasar seperti angan-angannya saat di taman Sydney. Ketika saya menemui dia bulan Februari tahun 1980 pohon acasia sudah memenuhi seantero Pulau Kisar. Departemen Kehutanan kemudian memakai benih acasia da ri Pulau Kisar sebagai pohon penghijau di mana-mana di seluruh Indonesia
Nota:
Kalau dulu saya menulis tentang dua cewek Australia yanvg menginspirasikan diadakannya toilet di setiap SPBU, kali ini tentang seorang penduduk desa di pulau kecil yang menginspirasikan diadakannya penghargaan Kalpataru.
Seorang wartawan harus jeli mengamati apa yang dilakukan orang kecil yang melakukan hal2 besar.



Post a Comment