Header Ads


Refleksi Kebudayaan

Oleh Peter A. Rohi.Direktur Soekarno Institute
Peter A. Rohi.
Tahun 2015 segera berlalu. Tahun 2016 ibarat Pandora Box yang masih terkunci rapat, tak seorang pun tahu apa yang bakal terjadi. Tahun ini saya banyak kehilangan teman. Joop Pandie wartawan hebat, meninggal di atas pesawat. Ia menyusul sahabat Aco Manafe wartawan hebat asal Oekabiti yang tak ada duanya di republik ini.

Bung Gerson Poyk sedang sakit, demikian telepon penyair Martha Sinaga tadi malam. Dari Martha saya baru tahu sastrawan Leon Agusta, sahabat Gerson meninggal beberapa hari lalu. Saya ingat ngobrol kami sambil ngopi di warung rumah Bung Chris Silalahi yang juga sudah meninggal. Martha juga mengabari sahabat muda Yon AG telah meninggal, juga ibu Rorimpandey, bunda Sinar Harapan.

Sementara di kantor kami di Jl.Fatmawati, pimpinan kantor sahabat muda M. Nuryadi juga meninggal. Semua terjadi ketika saya lama tidak di Jakarta dan sebagian terlambat beritanya, Yang saya katakan sahabat muda, karena umumnya usia mereka 20 sampai 30 tahun lebih muda.

Saya, veteran yang sejak tahun 1982 tidak menerima hak veteran, Banyak teman tidak mengurus hak2 yang aneh itu, karena untuk memperoleh hak itu kita harus “mengemis”, Artinya mendapat hak veteren itu harus melalui permohonan berliku-liku dan membosankan. Maka di Morotai Ketua veteran di sana seorang anak muda keturunan Tionghowa, yang memperoleh vetaran karena aktif di Jakarta sebagai Angkatan 66 (Aneh! Angkatan 66 dapat veteran). Seorang wartawan muda lagi di Bogor juga bisa memperoleh hak veteran. Bagaimana mereka memperoleh hak veteran itu saya pun tak tahu.

Tetapi ketika melayat sahabat sesama KKO Laazar Salean, ia tidak dimakamkan sebagai seorang veteran, pada hal dia bersama saya dan almarhum Salim Atu prajurit asal Kampung Solor adalah orang2 terakhir yang ditarik balik saat operasi Dwikora.

Saya sudah banyak menyaksikan para penipu duduk dalam pemerintahan eksekutif mau pun legislatif. Mereka belum berbuat apa-apa di negeri ini, bagi rakyat negeri ini.

Saya meresa sudah berlari masuk dalam Pandora Box yang bisa saja ada titik akhir di sana. Saya sudah merasakan bagaimana di tubuh saya, dan saya keluar hidup2. Dengan tulisan, saya sudah membela daerah perairan Heliputan di tepi Laut China Selatan yang dulu dinyatakan perairan bebas dan bahkan negara sudah “membuang”nya, yang kini menghasilkan Rp.225 Triliun pertahun.dari gas untuk bangsa ini

Saya tidak mengambil sepeser pun dari veteran, saya tidak mengemis sepeser pun dari perjuangan untuk memasukkan kembali perairan Heliputan ke wilayah RI..Apalagi sekadar uang2 receh yang selalu berserakan di “ruang” professi,

Saya ingin para pejabat, jabatan apa pun atas nama negara malulah pada kami yang hampir berakhir ini yang tanpa serakah yang bakal masuk ke jalur finish. 

Semoga refleksi kebudayaan ini mendatangkan pemikiran2 baru, bahwa sesungguhya kalian belum berbuat apa2 bagi bangsa ini. Kalian belum merasakan bagaimana peluru berseliweran di sekujur tubuh, belum juga memberikan jumlah triliunan bagi bangsa dan negara. Bahkan menguras uang rakyat sampai kering.

Akhirnya, saya kutip ucapan rekan saya sesama KKO yang belum lama meninggal ketika kami bertemu di :Pulau Sabu, Salmon Lenahuki. Kalau negara merasa kami berhak akan veteran berikanlah, tapi untuk mengemis, itu bukan budaya kami. Ini pemikiran asli Sabu lama, yang kami adopsi dari kepercayaan leluhur: Jingitiu.

No comments

Terimakasih, apapun komentar anda sangat kami hargai

Powered by Blogger.