Header Ads


Bagaimana Sebuah Peta Menyelamatkan Wartawan Peter Rohi

Oleh Matheos Victor Messakh
Gara2 judul dalam zsebuah koran asing ini yang mewawancarai saya dan menuduh Michael Hatcher sebagai pencuri Harta Karun di Perairan Natuna, saya dilaporkan ke ;pengadilan.

Koran “De Volkskrant” dari Belanda yang mengulas
 sejarah tenggelamnya kapal VOC yang membawa
muatan barang-barang berharga yang tenggelam pada tahun
1752. Koran ini juga mengutip tulisan Peter Rohi di Sinar
 Harapan. [credit: koleksi Peter A Rohi]
Perairan Heliputan di batas Laut China Selatan sudah dinyatakan tidak masuk dalam wilayah  Indonesia. Ketika terjadi pencurian Harta karun darki banmgkai kapal gelxdermalsen yang tengelam di sana, pihak Depertemen dalam ndegeri dan Ljuar ngeri menhyatakan letak bangkai kapal yang tenggelam 234 tahun lampau itu termasuk dalam perairan bebas. Karena pernah bertugas di sana, saya tahu persis bahwa pernyataan pihak Indonesia itu sangat keliru.  

Tahun 1985, Juli 30 tahun lalu, saya dipanggil Redaktur Pelaksana Harian Sinar Harapan R.H.Siregar alm.. Ada informasi dari koresponden di Riau Edy Mawuntu (alm.) tentang pencurian harta karun dari sebuah kapal yang tenggelam di perairan Kayu Ara (Heliputan) , Natuna yang dilakukan oleh Michael Hatcher seorang pemburu harta karun dari Australia. Kapal Geldermalsen tahun 1752 sedang berlayar dari Nanking memuat barang-barang bernilai di antaranya emas batangan dan barang-barang keramik dari dinasti Ming.

Saya ditugaskan mengungkapn kasus itu. Berlayarlah saya ke lokasi yang disebutkan mewawancarai banyak penduduk di pulau-pulau kecil. Sumber utama yg kita rahasiakan tempatnya.

Barang-barang curian sudah dilelang di balai lelang Christy Amsterdam dan Harold London. Tetapi yang jadi masalah bukan itu saja. Michael Hatcher saat diwawancarai saya dan Atmadji Sumarkidjo (kemudian Pemre RCTI dan sekarang staf Presiden) di Hotel Dynasty, Singapore, Hatcher menuduh saya mencemarkan nama baiknya karena dalam laporan saya yang dimuat dalam head line berturut-turut di Sinar Harapan, saya menuduhnya sebagai perbuatan pencurian. Dia akan melaporkan saya ke pengadilan, lengkap dengan pengacara dari Singapura. 

Peta yang ditemukan rekan Peter, Bonar Simorangkir, yang kebetulan sedang berada di Leiden, mengungkap bahwa kapal Geldermalsen tenggelam di perairan Hindia Belanda, sehingga dengan sendirinya Indonesialah yang berhak atas harta karun itu. [credit: koleksi Peter A. Rohi]

Sambungan koran De Volkskrant.
 [credit: koleksi Peter A. Rohi]
Masalah kedua adalah dia mengatakan wilayah perairan tempat di mana dia menguras harta karun itu adalah perairan bebas. Depdagri dan Deplu pun mengatakan perairan itu adalah perairan bebas. Untunglah, pada saat yang tepat rekan Bonar Simorangkir (alm.) yang sedang di Leiden menemukan peta lama (lihat gambar peta), di mana tampak jelas perairan tempat tenggelamnya kapal Geldermalsen masuk wilayah Hindia Belanda. 

Dengan malu-malu Direktorat Perhubungan Laut memasang menara di situ menandakan bahwa wilayah itu masuk wilayah RI. Sekarang di lokasi itu terdapat eksplorasi gas yang menghasilkan devisa Rp. 225 triliun per tahun.  

“Untung wilayah itu diperjuangkan Sinar Harapan sehingga wilayah Natuna kini menjadi wilayah kaya,” kata mantan bupati Daeng Rusnadi ketika kami bertemu lima tahun lalu. Merebut sebuah wilayah rtidak perlu melepaskan satu tembakan pun, itu yang pernah kami lakukan. Sekarang China melirik perairan kaya itu dengan alasan masuk Laut China Selatan.
Salah satu koran Inggris yang mengutip Sinar Harapan. [credit: koleksi Peter A. Rohi]

Saat itu, puluhan wartawan asing mewawancarai saya. Foto-foto dalam tulisan ini adalah contoh dua koran, al. dari Belanda dan Inggris yang mengutip berita dari SINAR HARAPAN (ditandai dengan stabilo). Koran de Volkskrant dari Belanda malahan menyertakan sejarah tenggelamnya kapal itu dengan judul “Van Kanton Naar Christie’s duurt 234 jaar” (Dari Kanton ke Christie melalui 234 tahun).-[S]

No comments

Terimakasih, apapun komentar anda sangat kami hargai

Powered by Blogger.