Header Ads


Penghancuran Rumah Bung Tomo

7 Mei pukul 15 : 43 Gedung Bung Tomo Rata 
Seitiga emas pergtemuan tiga jalan. Ujung Jalan Mawar rumah Bung Tomo, Ujung Jalan Duryat rumah Kol. Sungkono, Panglima Divisi Jawa Timur, ujung Jalan Pregolah rumah Gubernur Suryo.
Surabaya, Laras Post - Hanya dua ratus meter dari rumah saya, rumah bersejarah masa perjuangan Arek-arek Surabaya melawan Sekutu pada November 1945, kini menjadi isu hangat. 

Tampak dupa berasap dan kembang tujuh warna berserakan di pintu yang telah terkunci. Pihak Jayanata yang membeli rumah itu tak peduli sejarah, tak peduli perjuangan kota ini dan bangsa ini. Di sini terdapat tiga pertemuan jalan yaitu ujung jalan Duryat (dulu Welhelmina Boulevard, lalu Jalan Cendana), ujung jalan Mawar dan ujung jalan Pregolan.

Inilah markas perjuangan revolusi November 1945. Ujung jalan Mawar adalah rumah dan gedung radio yang dipimpin Bung Tomo, ujung jalan Pregolan adalah rumah Gubernur Suryo yang tewas waktu revolusi, dan ujung Jalan Duryat adalah rumah Panglima Divisi Jawa Timur Kol. Sungkono.

Kesibukan setiap hari di sini menjadi otak perlawanan terhadap sekutu. Jalan Mawar bukan saja berarti bagi Surabaya, tapi juga bagi Indonesia. Di jalan ini laskar pemuda yang terdiri dari semua suku penghuni kota Surabaya berkumpul dan mengatur siasat. 

Ratusan laskar Batalyon Djarot tewas mempertahankan kawasan ini, termasuk Karang Bulak (sekarang berdiri Hotel Hyatt) dan Lemah Putro bertimbun di depan Apotik Kaliasin yang sekarang anehnya bukan didirikan monumen laskar tapi justru sapi-sapi yang sedang berkarapan.

Rumah Bung Tomo yang sudah rata dengan lantai bumi dijepret dari celah2 pintu yang tersegel.
Itulah bukti tata ruang dengan sejarah kepahlawanan yang tidak terpadu dengan makna Kota Pahlawan. Para kapitalis mengerti bahwa mereka tidak bakal sepenuhnya menguasai sebuah bangsa sebelum menghancurkan sama sekali sejarah perjuangan bangsa itu. Kalau kita biarkan, ini bukan berakhir, tapi ini adalah awal penjajahan baru. 

Mendengar kecerobohan pihak Jayanata, yang berusaha di bidang mode dan kecantikan langganan para artis dan perempuan-perempuan berkelas itu, Walikota Surabaya Ir Tri Risma Harini memerintahkan Jayanata untuk membangun kembali sesuai asli. Namun begitu para pecinta sejarah di Surabaya mengatakan kalau hanya meminta membangun kembali, jayana mampu membangun seratus rumah serupa.  Bagi mereka, inti masalah adalah bagaimana menghukum para perusak situs sejarah di Kota Surabaya dengan menjatuhkan hukuman sebesar-besarnya. 

Namun begitu pihak Kepolisian tidak ambil peduli ketika kasus itu dilaporkan seorang pengacara senior Trimulya D. Soerjadi atas nama masyarakat Surabaya. Ia ditolak begitu saja.

“Ada sertifikat rumah yang dirusak,” kata polisi yang menerima. Tanpa sertifikat laporan atas kerusakan situs itu tidak dapat diterima. 

Tentu saja hal perlakukan polisi pada pengacara senior itu mengundang kemarahan arek-arek Surabaya. Bagaimana kalau ada yang melaporkan pengrusakan kantor Gubernur apa harus bawa sertifikat baru polisi bertindak? Kalau begitu Tugu pahlawan bisa saja dirusak tanpa ada tindakan. 

Maka pada hari Senin, 9 Mei lalu, arek-arek Surabaya berkumpul di di Monumen Gubernur Suryo dan  berarak mengantar pengacara senior itu beramai-ramai melapor ke Polrtesta Surabaya. 

Sementara itu ada pendapat kasus penghancuran rumah Bung Tomo ini bisa menjadi batu sandungan Tri Risma Harini menjadi calon Gubernur DKI Dari pada ke Jakarta, Surabaya butuh Ibu Risma di sini untuk menata kembali kota ini.  ***

No comments

Terimakasih, apapun komentar anda sangat kami hargai

Powered by Blogger.