Indonesia Milik Siapa
M.E. Sudrajat
“Kita bangsa besar, Kita buka bangsa tempe, Kita tidak akan Mengemis, Kita tidak akan minta-minta, apalagi bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat itu, Lebih baik makan Gaplek tetapi Merdeka, dari pada makan Bistik tapi Budak”.
“Bung Karno”
Dalam era globalisasi dimana dengan mudah informasi dan berbagai pengetahuan baik umum, resmi maupun rahasia bisa ditelusuri melalui teknologi tinggi,selain itu era globalisasi ini menembus ruang dan waktu tidak mengenal batas teritorial suatu negara. Demikian pula dalam era globalisasi ini diharapkan Indonesia tidak kalah terkenal dengan sebuah Pulau Bali, dimana sebelumnya masyarakat internasional lebih mengetahui Pulau Bali dari pada Indonesia.
Indonesia secara politis memiliki luas wilayah termasuk ZEE (Zona Ekonomi Eksklusif) tidak kurang 7,7 juta kilometer persegi. Dengan luas daratan 1.904.556 kilometer persegi, serta lautan sebesar 5,5 juta kilometer persegi. Luas lautan ini sudah termasuk di dalamnya landas kontinen sebesar lebih kurang 2,8 juta kilometer persegi, sehingga apabila menggunakan skala perbandingan luas wilayah darat dan laut ialah 1:2.
Secara struktur fisik Indonesia merupakan negara kepulauan (Archipelagos) yaitu terdiri dari pulau besar dan pulau kecil tidak kurang 17.508 pulau. Sebagai ilustrasi 60 persen penduduk Indonesia ada di Pulau Jawa dari jumlah 240 juta penduduk, padahal luas pulau Jawa hanya 7 Persen dari luas wilayah Indonesia. Sementara itu, jumlah penduduk secara global yaitu China, India, Amerika Serikat dan Indonesia. Bonus penduduk yang besar ini yang dihadapi Indonesia, karena penduduk yang besar jika pemerintah tidak bisa menangani secara tepat akan menimbulkan berbagai masalah dan akan mengganggu kredibilitas Indonesia di masyarakat internasional.
Perkembangan Indonesia senantiasa menjadi perhatian masyarakat internasional seperti diantaranya; merupakan negara kepulauan (Archipelagos) terbesar di dunia, negara berpenduduk besar tidak kurang 240 juta jiwa, negara yang penduduknya beragama Islam terbesar di dunia, memiliki Budaya, etnis dan Bahasa tidak kurang 250 budaya dan bahasa serta memiliki kekayaan alam yang membuat iri negara besar. Dengan predikat kebesaran ini bangsa Indonesia senantiasa mendapat perhatian masyarakat internasional khususnya negara besar. Dengan predikat besar ini pula posisi Indonesia sangat rawan apabila Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia tidak memiliki keunggulan, mentalitas manusia Indonesia yang baik serta pemerintah yang tidak kuat, bersih dan manajemen pengelolaan pemerintah yang buruk karena tidak didukung ketahanan nasional yang kuat.
Modal Pluralisme dan Nasionalisme
Keutuhan Indonesia sangat diperhitungkan masyarakat internasional dan ujian bagi bangsa Indonesia dalam menghadapi campur tangan asing untuk menghancurkan Indonesia bukan sekali saja. Tahun 1998 Indonesia menghadapi krisis multidimensi sehingga banyak yang mengkhawatirkan akan keutuhan NKRI. Masyarakat internasional pun banyak yang menyorot akan perkembangan Indonesia saat itu, “The end of the era”” terhadap Orde Baru (Orba) merupakan isu yang berkembang. Eksistensi Indonesia sebagai negara besar, penting dan berpengaruh di kawasan ASEAN tidak bisa dipungkiri. Era Orba jatuh pada saat itu Indonesia disebut “The Sick Man of South east Asia”, yang tidak memiliki pamor, wibawa, turunnya kredibilitas di masyarakat internasional. Namun prediksi akan hancurnya Indonesia tidak terbukti, dimana ada pihak asing sangat berharap akan Indonesia hancur dan terjadi disintegrasi sebagaimana yang dialami oleh Uni soviet dan Yugoslavia mengalami perpecahan menjadi beberapa negara. Disinilah terbukti keunggulan Persatuan dan Kesatuan bangsa Indonesia.
Masyarakat internasional sangat kagum akan kekayaan Pluralisme, Etnik maupun semangat kebangsaan masyarakat Indonesia dalam membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang selanjutnya menjaga keutuhan NKRI. Kekaguman tersebut sangat beralasan karena eksistensi Indonesia jika diperhatikan berada pada posisi 119 dari 135 negara (urutan homogenitas etnik dari 135 negara yang diteliti). Secara etnik suatu bangsa bisa homogen dan heterogen, dalam hal ini bisa kita perhatikan urutan homogenitas etnik dari beberapa negara meski tidak semua, diantaranya Korea Utara (Korut) dan Korea Selatan (Korsel) 100 persen, Yemen,Jepang, dan Portugal 99 persen, Haiti, Puerto Rico, Hongkong 98 persen, Polandia, Mesir, Burundi, Kuba, Dominica, Irlandia, Italia dan Norwegia 96 persen, Monaco,Hungaria dan Belanda 90 persen, Kolumbia, Madagaskar dan Saudi Arabia 94 persen, China 88 persen, Kuwait 82 persen, Israel 80 persen, Perancis 74 persen, Inggris dan Australia 68 persen, Papua Nugini, Singapura dan Taiwan 58 persen, Swiss dan Amerika Serikat 50 persen, Afghanistan, Kongo dan Thailand 34 persen, Malaysia 28 persen, Philipina 26 persen, Indonesia dan Iran 24 persen, India dan Kamerun 11 persen, Tanzania 7 persen.
Mencermati hal ini menunjukkan bahwa Persatuan dan Kesatuan bangsa Indonesia dibangun diatas heterogenitas yang dimiliki bangsa Indonesia yaitu pada level 24 persen. Di usianya ke 70 tahun Republik Indonesia belum menunjukkan kekuatan maupun pengaruhnya di masyarakat internasional, percaturan politik global ataupun untuk tingkat regional saja belum terlihat. Namun demikian kita sebagai warga negara yang baik harus tetap optimis dalam menghadapi dan membangun Indonesia yang besar ini. Indonesia yang sudah 70 tahun sebagai negara berdaulat dan merdeka diperhitungkan dunia, dengan usia ini idealnya Indonesia sudah masuk dalam kategori maju dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang dapat mempengaruhi perekonomian dunia. Hal ini bukan mimpi belaka, jika Indonesia mampu mengembangkan dan meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang profesional dan Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah yang belum dikelola secara signifikan.
Dikaitkan dengan jumlah penduduk 240 juta dan terus bertambah, sudah sepantasnya pemerintah lebih memprioritas dan menekan jumlah penduduk yang nantinya terwujud warga negara yang berkualitas dan profesional, jadi bukan warga negara yang menjadi beban sosial negara. Sepatutnya pula kita tetap bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena dengan anugrahnya keutuhan NKRI masih terjaga. Sepantasnya pula kita mengingat kalimat Presiden Sukarno; “Apakah Kelemahan Kita adalah kurang percaya diri sebagai bangsa,sehinggga Kita menjadi bangsa penjiplak luar negeri dan kurang mempercayai satu sama lain, padahal kita ini asalnya adalah Rakyat Gotong Royong”. (Penulis Pamen TNI AU)



Post a Comment