Header Ads


Perkembangan IJK Dalam Kondisi Baik

Deputi Komisioner Manajemen Strategis IB OJK, Lucky F.A. Hadibrata
Jakarta, Laras Post Online - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai perkembangan dan profil risiko pada Industri Jasa Keuangan (IJK) secara umum berada dalam kondisi yang baik. Penilaian tersebut merupakan kesimpulan Rapat Bulanan Dewan Komisioner OJK yang digelar rutin pada minggu kedua setiap bulan untuk mengevaluasi perkembangan dan profil risiko di industri jasa keuangan.
 Deputi Komisioner Manajemen Strategis IB OJK, Lucky F.A. Hadibrata mengungkapkan, secara global pemulihan ekonomi pada negara maju tetap berlanjut namun tidak merata. Patut dicermati efek rambatan dari normalisasi kebijakan Amerika Serikat terhadap Emerging Market.
Lebih lanjut ia menyatakan, pemulihan ekonomi global berlangsung dengan kecepatan yang berbeda-beda. Indikator perekonomian di Amerika Serikat mengindikasikan penguatan pemulihan sementara di Eropa, Jepang sebaliknya termasuk China yang mengindikasikan perlambatan pertumbuhan. 
Terkait perbaikan indikator ketenagakerjaan di Amerika menimbulkan spekulasi percepatan kenaikan suku bunga yang kemungkinan akan dilaksanakan di Semester I-2015. Perubahan stance kebijakan ini mengandung implikasi rambatan (spillover), berupa perilaku risk off Investor dari Emerging Market (EM), berpotensi menimbulkan pembalikan arus modal dipasar keuangan EM termasuk Indonesia. Perlambatan ekonomi EM diproyeksikan masih berlanjut yang juga dapat menimbulkan efek rambatan dalam lingkup global.
Lucky menegaskan, dampak pelambatan perekonomian global mempengaruhi perekonomian domestik Indonesia, antara lain perlambatan pertumbuhan ekonomi TW II -2014, yang terjadi pada seluruh komponen pengeluaran. Konsumsi rumah tangga dan investasi masih bertumbuh meski melambat, sementara terjadi kontraksi pada konsumsi pemerintah, ekspor dan impor. Defisit transaksi berjalan TW II-2014 melebar, meskipun NPI surplus ditopang transaksi modal dan finansial, di satu sisi inflasi masih terjaga namun terdapat potensi tekanan tambahan.
Kondisi perbankan, permodalan masih tergolong tinggi, CAR pada level 19,39% dan didominasi komponen modal inti (Tier 1), rentabilitas stabil dengan kecenderungan sedikit menurun, hal ini terlihat dari indikator ROA yang relatif stabil, sementara BOPO relatif meningkat bila dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Kondisi Pasar Saham mengalami penguatan diikuti dengan meningkatnya Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana secara mtm. Kenaikan NAB ini berasal dari peningkatan nilai protofolio investasi sebesar Rp289 miliar dan net subscription sebesar Rp 721 miliar. Net subscription terbesar dialami oleh reksa dana terproteksi dengan nilai Rp 708 miliar, sementara reksa dana pasar uang membukukan net redemption terbesar dengan nilai Rp 704 miliar.
Disebutkan, nilai investasi asuransi dan dana pensiun per Juli 2014 menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan bulan sebelumnya sejalan dengan penguatan pasar pada bulan tersebut. Nilai investasi dana pensiun tercatat sebesar Rp 170,5 triliun, meningkat 1,3% dibanding bulan sebelumnya. Nilai investasi asuransi (termasuk BPJS) tercatat sebesar Rp643,7 triliun meningkat sebesar 11,4% dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
Risiko likuiditas, pada perbankan dalam kondisi stabil dan tingkat risiko relatif rendah. Alat likuid cukup memadai untuk mengantisipasi potensi penarikan Dana Pihak Ketiga (DPK). Namun terdapat potensi peningkatan risiko likuiditas sejalan dengan peningkatan LDR, ketergantungan terhadap pendanaan non inti serta rasio deposan inti yang masih cukup tinggi. Pada pasar modal, nilai dan frekuensi transaksi perdagangan saham pada Agustus menurun dibandingkan bulan sebelumnya, dilatarbelakangi oleh menurunnya intensitas sentimen pasar, sementara bid-ask spread menunjukan penyempitan.
Lucky menambahkan, risiko kredit lembaga jasa keuangan secara umum berada pada level yang relatif rendah. Risiko kredit pada perbankan relatif rendah, kualitas kredit stabil, tercermin dari NPL yang rendah dan stabil, namun porsi kredit kualitas rendah dan konsentrasi kredit pada debitur inti yang relatif tinggi serta peningkatan suku bunga perlu diwaspadai berpotansi pada peningkatan NPL. “Perlu diperhatikan pemburukan kualitas beberapa jenis kredit yang sensitif terhadap perubahan suku bunga yang berpengaruh terhadap peningkatan risiko kredit,” ujarnya.
Lucky melanjutkan, perusahaan pembiayaan, per Juli 2014, Financing to Asset Ratio (FAR) meningkat sementara Non Performing Financing (NPF) menurun dibandingkan dengan bulan sebelumnya. “Meski membaik, perlu tetap diwaspadai potensi peningkatan suku bunga,” pungkasnya. (ram)

No comments

Terimakasih, apapun komentar anda sangat kami hargai

Powered by Blogger.